akutnya hanya untuk Allah SWT sehingga tidak tersisa untuk penjajah.
Senin sore 21 Desember 2009. Seperti biasa Dr. Maher Al-Jabari keluar dari kampus Politeknik tempatnya mengajar untuk pulang ke rumah di Hebron, Tepi Barat. Ia menuju tempat parkir kemudian menjalankan mobilnya.
Namun baru beberapa kilo meter berjalan, tiba-tiba dari arah berlawanan mobil pasukan keamanan Otoritas Sekuler Palestina (PA) yang melaju dengan kencang dan menembaknya. Kemudian mobil aparat itu berbalik dan menabraknya dari belakang. Benar-benar biadab, ternyata selain tidak mengindahkan keselamat Maher, aparat pun tidak mengindahkan keselamatan pengguna jalan lainnya. Kontan saja tabrakan beruntun terjadi. Kemudian mereka menangkapnya dan di bawa entah ke mana.
Aksi brutal itu dilakukan setelah PA gagal menculiknya pada beberapa hari sebelumnya. Sampai tulisan ini dibuat belum diketahui di mana dan bagaimana kondisinya.
Siapa Maher?
Maher berasal dari Klan Jabari, klan yang sangat dihormati di Palestina. Ia pun seorang penulis banyak penelitian ilmiah. Di bidang akademis, dia termasuk orang yang dihormati oleh masyarakat akademisi dan para mahasiswa. Tapi mengapa otoritas Palestina begitu berambisi meneror dan menangkapnya? Tak ayal lagi karena perjuangannya membongkar persekongkolan busuk antara otoritas Palestina dengan penjajah.
Kondisi apapun tidak dapat membuatnya berhenti menyuarakan kebenaran. Maka amanah sebagai anggota media informasi Hizbut Tahrir di Palestina benar-benar ia jalankan seoptimal mungkin. Rasa takutnya hanya diberikan kepada Allah SWT sehingga tidak tersisa sedikitpun buat penjajah.
Sebelumnya aparat keamanan juga mengancamnya seperti layaknya geng jalanan karena gagal menculik Maher dari rumah pada hari Rabu malam 16 Desember 2009 lalu. Para anggota dinas intelijen mengepung rumahnya dan memintanya keluar. "Aku tidak mau memenuhi perintah Anda!" jawab Maher.
Mereka marah kemudian meninggalkan rumahnya dan mengancam akan menculik Maher. Namun Maher tidak gentar. Bahkan dalam sebuah wawancara terkait upaya penculikkannya pada keesokan harinya itu, Maher mengatakan PA berusaha untuk membungkam HT yang mengungkap persekongkolan otoritas Palestina yang telah melayani kepentingan Amerika untuk mengamankan kepentingan penjajahan Zionis.
"Mereka bekerja dalam pelayanan Dayton," katanya, mengacu pada Komandan Tinggi Amerika Serikat di Palestina Jenderal Keith Dayton. PA telah menjadi kepanjangan tangan kekuasaan dan kebijakan diktator, melaksanakan perintah yang berasal dari Amerika Serikat. Dayton, kebakaran jenggot dengan tindak lanjut HT dalam mengungkapkan rencana kolonialisme dalam semua proyek dan peta yang ditujukan untuk melikuidasi masalah Palestina.
Hal itu tidak akan berhasil dalam menentang HT yang akarnya menancap dalam hingga sebelum PA yang lemah itu sendiri lahir. Lalu bagaimana PA yang keji, tidak mengakar dan tidak memiliki wewenang mengambil keputusan itu akan bisa menggoyang HT yang akarnya menghunjam dalam ke bumi dan cabangnya tegak menjulang ke langit!.
HT dan para syababnya, negara-negara yang lebih kuat sekalipun tidak bisa menghentikan mereka dari berjalan di jalan kebangkitan umat Islam dan membebaskannya dari segala bentuk subordinasi, penjajahan dan kelemahan. Lalu bagaimana mungkin Otoritas yang hanya merupakan tangan keamanan bagi negara Yahudi, dan tunduk kepada instruksi-instruksi jenderal Amerika Dayton yang baunya menusuk hidung akan bisa memalingkan HT dari tujuannya?!
Hendaklah PA dan pihak yang ada di belakang tindakan-tindakan tersebut mengetahui bahwa tindakan-tindakan itu tidak akan pernah bisa mengintimidasi HT dan para syababnya. Juga tidak akan bisa menyebabkan apapun, kecuali justru makin menggerus PA dan membongkar hakikatnya di hadapan kaum Muslim.
Bongkar Persekongkolan
Sebelumnya, pada September 2009, Maher pun mengecam Perdana Menteri PA Salam Fayyad yang mengemis kepada Barat yang menjanjikan akan memberikan dana yang dibutuhkan sebesar 400 juta dollar selama empat bulan ke depan.
Menurut Maher hal itu hakikatnya kekuasaan PA tidak lebih dari sekedar "kota besar" yang hidup dengan bantuan asing dalam menyediakan layanan kepada warga Palestina guna mengalihkan perhatian mereka dari berpikir tentang pembebasan yang sebenarnya.
Sehingga langkah itu akan mengurangi konsekuensi dan tanggung jawab pendudukan untuk melawan dan membebaskan Palestina dari penjajahan Zionis Israel. "PA tidak bisa berdiri tegak kecuali mendapatkan dana dari para donor yang menjadi urat nadi bagi hidup mereka". Ia menambahkan bahwa "kekuasaan dengan kondisi seperti ini mustahil dengan cara apapun dapat melahirkan sebuah negara, sekalipun hanya serupa dengan negara kecil".
Padahal negara-negara donor tidak mungkin memberikan dananya kecuali untuk mewujudkan kepentingan-kepentingan politik mereka. Sementara, negara-negara donor yang dipimpin oleh Amerika itulah yang menentukan bahwa keamanan pendudukan Zionis Israel adalah prioritas utama.
Ia menilai dana donor itu adalah dana politik, dan tentunya memiliki harga politik yang harus dibayar oleh PA untuk bisa mendapatkannya. Dalam hal ini tampak jelas dari pernyataan-pernyataan pemerintah tentang dukungan "negara-negara dan lembaga-lembaga yang berpartisipasi dalam pertemuan tersebut untuk mendokumentasikan program-program kerja pemerintah."
Dengan tegas Maher menyatakan bahwa HT menolak membatasi problem Palestina hanya untuk rakyat Palestina, karena pembatasan itu telah membawa pada pendekatan mengemis ini.
Ia berkata "kaum Muslim memiliki berbagai potensi, kemampuan, dan dana publik untuk memenuhi semua kebutuhan setiap individu umat Islam. Sehingga dengan semua itu umat Islam, termasuk rakyat Palestina, tidak butuh dana politik dari negara-negara Barat yang telah menjarah setiap sumber daya alam milik kaum Muslim, yang kemudian mereka mengembalikan sebagian untuk kaum Muslim dalam bentuk bantuan untuk mewujudkan kepentingan-kepentingan mereka."
Terakhir ia mengatakan bahwa "untuk memanfaatkan semua potensi, kemampuan dan dana ini untuk kepentingan umat Islam dan setiap individunya, tidak mungkin dilakukan dengan baik di bawah para penguasa despotis, sewenang-wenang, dan zalim, yang selama ini merampas kekuasaan dan mencuri kekayaan; dan tidak mungkin dapat melaksanakan hak harta umat Islam dengan semestinya, kecuali dengan menerapkan sistem ekonomi Islam oleh seorang Khalifah yang adil, yang menyatukan kaum Muslim, dan memelihara harta kekayaan mereka".
PA bertanggung jawab sepenuhnya atas keselamatan Maher. Tindakan mengacau dan premanisme tidak akan pernah menghentikan semangat HT untuk menyampaikan kebenaran; berjuang menyadarkan kaum Muslim untuk mendirikan Khilafah Islam, dan membebaskan Palestina dari kebiadaban Zionis dan pemerintahan Amerika. [] joko prasetyo/berbagai sumber
http://mediaumat.com/sosok/1236.html
Selasa, 31 Mei 2011
Faisal Rahmat Sitohang : Dari Maksiat Berubah Jadi Pejuang Syariat
Aku disuruh taubat ketika terjebak maksiat. Tapi malah disebut sesat ketika taubat. Tapi aku tetap membulatkan tekat hingga keluargaku pun turut menjadi pejuang syariah.
Sebagai anak yang terlahir dalam keluarga Muhammadiyah, aku sebenarnya tidak begitu kering dari ajaran agama. Masa kecil bersama tujuh orang bersaudara kuhabiskan di Kota Padang Sidempuan, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Sebuah kota yang menjunjung tinggi adat istiadat mandailing, namun sering disebut sebagian masyarakat Sumatera Utara sebagai daerah yang banyak menghasilkan santri dan para ustadz. Hingga kini kusadari itu, walau tak sepenuhnya benar.
Saat usiaku meranjak remaja sekitar kelas 1 SMK di salah satu sekolah swasta di Padang Sidempuan semua masih baik-baik saja. Sebenarnya, teman-temanku di sekolah pada umumnya baik, untuk merokok saja, yang lazim dilakukan anak masa kini, mereka tidak mau. Sama seperti aku ketika itu.
Namun situasi berbeda ketika aku naik ke kelas 2. Awalnya, aku kaget saat teman sebangkuku menawari narkoba, ternyata ia seorang agen narkoba. Perlahan tapi pasti, melalui pertemanan itulah aku mulai terjerumus ke dunia hitam sebagai pengguna dan pengedar narkoba. Pagi, siang dan sore waktu kuhabiskan untuk menjual narkoba khususnya daun ganja.
Malu aku sebenarnya mengatakan ini semua, namun sebagai bahan pembelajaran bagi kita bahwa sesungguhnya apa yang kulakukan sebagai agen narkoba atau pemakainya dahulu sudah jauh dari kewajaran orang yang waras. Narkoba yang kudapat dari pengurus Organisasi Kegiatan Pelajar (OKP) ketika itu setiap hari juga kuedarkan bahkan kujual di sekolah-sekolah lain. Racun narkoba menjadi bagian dari kehidupanku. Tidak hanya mengonsumsi daun ganja, aku pun mulai merambah mengonsumsi ekstasi dan berbagai minuman keras.
Nasihat keluarga dan siapa pun juga yang mencoba agar aku berhenti dari perbuatan maksiat ini tidak ada yang mempan. Sampai Allah SWT mengingatkanku dengan cara-Nya sendiri. Pada suatu malam aku pulang menggunakan sepeda motor dari pesta narkoba. Keadaan tubuhku sudah oyong atau pening gak karuan akibat over dosis menghisap ganja.
Sebelum pulang, aku mengantarkan teman ke rumahnya, saat hendak pulang ke rumahku entah bagaimana ceritanya tak sadarkan diri aku langsung jatuh akibat menabrak batu besar di pinggir jalan. Untung saja masih ada orang yang berbaik hati dan memboyongku ke rumah sakit Bayangkara untuk di rawat.
Seperti biasa, jika pecandu narkoba mengalami kecelakaan pasti perlakuan pihak rumah sakit sering tidak manusiawi. Tapi justru perlakuan kasar itulah membuatku jadi berpikir. “Ini semua gara-gara narkoba!” ujarku dalam hati.
Wajahku terluka sehingga harus dijahit dengan 13 jahitan, tulang pungggungku bergeser dan sebagian besar luka kulit. Yang pastinya kondisi fisik yang cukup mengenaskan ketika itu. Dengan sakit yang amat sangat itu, akhirnya aku sempat berpikir untuk meninggalkan narkoba.
Waktu berlalu hingga aku boleh pulang setelah sebulan lebih aku dirawat intensif di rumah sakit. Ada kemajuan, sejak kecelakaan itu aku sama sekali tidak ingin menghisap ganja, padahal sebelumnya tiada hari tanpa narkoba. Sampai hampir dua bulan aku tidak mengonsumsi narkoba. Mungkin itulah hikmah dari musibah yang menimpaku.
Sampai suatu saat teman sesama pengonsumsi narkoba datang ke rumah untuk menjengukku. Mereka menawariku ganja lagi. Aku menolaknya. Tetapi aroma ganja yang khas itu sangat menggodaku. Imanku kembali goyah. “Satu linting kecil itu tidak apalah,” bisik setan dalam hati.
Aku pun menerima sodoran teman maksiatku itu. Karena fisik masih lemah, baru saja aku isap beberapa kali lintingan ganja itu, luka yang belum kering dari wajahku itu langsung mengeluarkan darah yang banyak.
Sejak saat itulah aku benar-benar merasa kapok dan benar-benar membulatkan tekad untuk meninggalkan narkoba. Waktu berjalan kuniatkan sungguh-sungguh untuk meninggalkan narkoba. Karena bantuan keluarga terkhusus motivasi yang diberikan ibuku tercinta, akhirnya aku sanggup untuk meninggalkan narkoba tersebut. Alhamdulillah sampai detik ini aku sudah tidak mengonsumsinya lagi.
Aku, Dakwah dan Keluargaku
Di tahun 2002 aku dan keluarga pindah ke Kota Medan. Karena ayahku dipindahkan tugas dari kepala sekolah Madrasah Aliyah Negeri di Tapsel menjadi pegawai Departemen Agama Kota Medan. Di Medanlah kami memulai banyak hal dalam berbagai kehidupan. Mulai meninggalkan daerah yang kental dengan adat-istiadatnya hingga kami sekarang semua berjuang dalam pergerakan dakwah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Medan.
Ini aku melalui perjalanan panjang. Awalnya berbagai gerakan kumasuki. Saat aku mulai masuk salah satu gerakan tersebut, aku kerap sekali berhubungan dengan banyak preman di terminal Pinang Baris Medan. Mereka kudakwahi, hingga berbagai penolakan dan bahkan ancamann fisik kerap sekali terjadi.
Walau loyalitasku di jamaah itu cukup tinggi namun aku masih belum merasakan nikmatnya dakwah di sana. Aku merasa ada sesuatu yang kurang. Apa itu? Aku pun tidak tahu. Sampai satu saat aku bertemu dengan seorang ustadz yang bernama Musdar Syahban seorang aktivis HTI Medan. Dia mengajakku mengaji dan memahamai Islam kaffah. Ternyata di sinilah hati kutambatkan. Akhirnya aku sampai detik ini terus berjuang bersamanya.
Gagasan Islam kaffah ini selalu kusampaikan ke keluargaku saat itu. Tak semudah yang kubayangkan sebagai anak yang eks pecandu narkoba mereka masih mengucilkan aku kalau bercerita seputar Islam dan ajarannya.
Selama setahun, sejak 2003 penolakan pun terjadi khususnya oleh ayah yang sekarang sudah tiada. Tak ada hari tanpa memarahiku saat menjelaskan Islam kaffah kepadanya. Aku dicap sebagai pembawa ajaran yang sesat hingga aku pernah diusir dari rumah.
Aneh memang, dulu aku disuruh taubat ketika terjebak maksiat. Tapi malah disebut sesat ketika taubat. Tapi aku tetap membulatkan tekad hingga keluargaku pun turut menjadi pejuang syariah. Hal itu kulakukan lantaran aku memahami kewajiban dakwah. Aku tak goyah sedikitpun dan terus berjuang bagaimana agar keluarga menjadi pengemban dakwah bersamaku di Hizbut Tahrir.
Alhasil, berkat pertolongan Allah SWT akhirnya ibu menerima dakwah yang pertama di keluarga. Darinyalah dakwah masuk ke ayah, abang, adik, dan kakak. Aku bersama ibu yang mengajak mereka untuk ikut mengaji memahami Islam kaffah. Dan akhirnya mereka menerima dakwah yang Allah perintahkan dan bersedia berjuang melanjutkan kehidupan Islam bersama Hizbut Tahrir. Hingga saat ini, kami tujuh bersaudara dan bersama ibu alhamdulillah tergabung dalam barisan dakwah Islam terus menggelorakan perjuangan syariah dan khilafah. Doakan semoga kami istiqamah.[]seperti diceritakan kepada dani umbara lubis
http://mediaumat.com/sosok/2468-48-dari-maksiat-berubah-jadi-pejuang-syariat.html
Sebagai anak yang terlahir dalam keluarga Muhammadiyah, aku sebenarnya tidak begitu kering dari ajaran agama. Masa kecil bersama tujuh orang bersaudara kuhabiskan di Kota Padang Sidempuan, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Sebuah kota yang menjunjung tinggi adat istiadat mandailing, namun sering disebut sebagian masyarakat Sumatera Utara sebagai daerah yang banyak menghasilkan santri dan para ustadz. Hingga kini kusadari itu, walau tak sepenuhnya benar.
Saat usiaku meranjak remaja sekitar kelas 1 SMK di salah satu sekolah swasta di Padang Sidempuan semua masih baik-baik saja. Sebenarnya, teman-temanku di sekolah pada umumnya baik, untuk merokok saja, yang lazim dilakukan anak masa kini, mereka tidak mau. Sama seperti aku ketika itu.
Namun situasi berbeda ketika aku naik ke kelas 2. Awalnya, aku kaget saat teman sebangkuku menawari narkoba, ternyata ia seorang agen narkoba. Perlahan tapi pasti, melalui pertemanan itulah aku mulai terjerumus ke dunia hitam sebagai pengguna dan pengedar narkoba. Pagi, siang dan sore waktu kuhabiskan untuk menjual narkoba khususnya daun ganja.
Malu aku sebenarnya mengatakan ini semua, namun sebagai bahan pembelajaran bagi kita bahwa sesungguhnya apa yang kulakukan sebagai agen narkoba atau pemakainya dahulu sudah jauh dari kewajaran orang yang waras. Narkoba yang kudapat dari pengurus Organisasi Kegiatan Pelajar (OKP) ketika itu setiap hari juga kuedarkan bahkan kujual di sekolah-sekolah lain. Racun narkoba menjadi bagian dari kehidupanku. Tidak hanya mengonsumsi daun ganja, aku pun mulai merambah mengonsumsi ekstasi dan berbagai minuman keras.
Nasihat keluarga dan siapa pun juga yang mencoba agar aku berhenti dari perbuatan maksiat ini tidak ada yang mempan. Sampai Allah SWT mengingatkanku dengan cara-Nya sendiri. Pada suatu malam aku pulang menggunakan sepeda motor dari pesta narkoba. Keadaan tubuhku sudah oyong atau pening gak karuan akibat over dosis menghisap ganja.
Sebelum pulang, aku mengantarkan teman ke rumahnya, saat hendak pulang ke rumahku entah bagaimana ceritanya tak sadarkan diri aku langsung jatuh akibat menabrak batu besar di pinggir jalan. Untung saja masih ada orang yang berbaik hati dan memboyongku ke rumah sakit Bayangkara untuk di rawat.
Seperti biasa, jika pecandu narkoba mengalami kecelakaan pasti perlakuan pihak rumah sakit sering tidak manusiawi. Tapi justru perlakuan kasar itulah membuatku jadi berpikir. “Ini semua gara-gara narkoba!” ujarku dalam hati.
Wajahku terluka sehingga harus dijahit dengan 13 jahitan, tulang pungggungku bergeser dan sebagian besar luka kulit. Yang pastinya kondisi fisik yang cukup mengenaskan ketika itu. Dengan sakit yang amat sangat itu, akhirnya aku sempat berpikir untuk meninggalkan narkoba.
Waktu berlalu hingga aku boleh pulang setelah sebulan lebih aku dirawat intensif di rumah sakit. Ada kemajuan, sejak kecelakaan itu aku sama sekali tidak ingin menghisap ganja, padahal sebelumnya tiada hari tanpa narkoba. Sampai hampir dua bulan aku tidak mengonsumsi narkoba. Mungkin itulah hikmah dari musibah yang menimpaku.
Sampai suatu saat teman sesama pengonsumsi narkoba datang ke rumah untuk menjengukku. Mereka menawariku ganja lagi. Aku menolaknya. Tetapi aroma ganja yang khas itu sangat menggodaku. Imanku kembali goyah. “Satu linting kecil itu tidak apalah,” bisik setan dalam hati.
Aku pun menerima sodoran teman maksiatku itu. Karena fisik masih lemah, baru saja aku isap beberapa kali lintingan ganja itu, luka yang belum kering dari wajahku itu langsung mengeluarkan darah yang banyak.
Sejak saat itulah aku benar-benar merasa kapok dan benar-benar membulatkan tekad untuk meninggalkan narkoba. Waktu berjalan kuniatkan sungguh-sungguh untuk meninggalkan narkoba. Karena bantuan keluarga terkhusus motivasi yang diberikan ibuku tercinta, akhirnya aku sanggup untuk meninggalkan narkoba tersebut. Alhamdulillah sampai detik ini aku sudah tidak mengonsumsinya lagi.
Aku, Dakwah dan Keluargaku
Di tahun 2002 aku dan keluarga pindah ke Kota Medan. Karena ayahku dipindahkan tugas dari kepala sekolah Madrasah Aliyah Negeri di Tapsel menjadi pegawai Departemen Agama Kota Medan. Di Medanlah kami memulai banyak hal dalam berbagai kehidupan. Mulai meninggalkan daerah yang kental dengan adat-istiadatnya hingga kami sekarang semua berjuang dalam pergerakan dakwah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Medan.
Ini aku melalui perjalanan panjang. Awalnya berbagai gerakan kumasuki. Saat aku mulai masuk salah satu gerakan tersebut, aku kerap sekali berhubungan dengan banyak preman di terminal Pinang Baris Medan. Mereka kudakwahi, hingga berbagai penolakan dan bahkan ancamann fisik kerap sekali terjadi.
Walau loyalitasku di jamaah itu cukup tinggi namun aku masih belum merasakan nikmatnya dakwah di sana. Aku merasa ada sesuatu yang kurang. Apa itu? Aku pun tidak tahu. Sampai satu saat aku bertemu dengan seorang ustadz yang bernama Musdar Syahban seorang aktivis HTI Medan. Dia mengajakku mengaji dan memahamai Islam kaffah. Ternyata di sinilah hati kutambatkan. Akhirnya aku sampai detik ini terus berjuang bersamanya.
Gagasan Islam kaffah ini selalu kusampaikan ke keluargaku saat itu. Tak semudah yang kubayangkan sebagai anak yang eks pecandu narkoba mereka masih mengucilkan aku kalau bercerita seputar Islam dan ajarannya.
Selama setahun, sejak 2003 penolakan pun terjadi khususnya oleh ayah yang sekarang sudah tiada. Tak ada hari tanpa memarahiku saat menjelaskan Islam kaffah kepadanya. Aku dicap sebagai pembawa ajaran yang sesat hingga aku pernah diusir dari rumah.
Aneh memang, dulu aku disuruh taubat ketika terjebak maksiat. Tapi malah disebut sesat ketika taubat. Tapi aku tetap membulatkan tekad hingga keluargaku pun turut menjadi pejuang syariah. Hal itu kulakukan lantaran aku memahami kewajiban dakwah. Aku tak goyah sedikitpun dan terus berjuang bagaimana agar keluarga menjadi pengemban dakwah bersamaku di Hizbut Tahrir.
Alhasil, berkat pertolongan Allah SWT akhirnya ibu menerima dakwah yang pertama di keluarga. Darinyalah dakwah masuk ke ayah, abang, adik, dan kakak. Aku bersama ibu yang mengajak mereka untuk ikut mengaji memahami Islam kaffah. Dan akhirnya mereka menerima dakwah yang Allah perintahkan dan bersedia berjuang melanjutkan kehidupan Islam bersama Hizbut Tahrir. Hingga saat ini, kami tujuh bersaudara dan bersama ibu alhamdulillah tergabung dalam barisan dakwah Islam terus menggelorakan perjuangan syariah dan khilafah. Doakan semoga kami istiqamah.[]seperti diceritakan kepada dani umbara lubis
http://mediaumat.com/sosok/2468-48-dari-maksiat-berubah-jadi-pejuang-syariat.html
Dr Mohammad Salim Atchia, MBA : Ikhlas dan Sabar Hadapi Cobaan
Ia berubah total. Merayakan Natal dan pacaran ia tinggalkan lantaran ingin kembali ke jalan yang benar. Cobaan pun menghadang, tetapi ia tetap istiqamah dalam dakwah.
Hampir pada setiap even besar perjuangan penegakan syariah dan Khilafah yang diselenggarakan di berbagai negara, tokoh Hizbut Tahrir Inggris Mohammad Salim Atchia selalu hadir sebagai pembicara. Dengan tegas, lugas dan lantang ia selalu meneriakan syariah dan Khilafah sebagai solusi atas seluruh problematika manusia.
Ketika ada yang menuding Khilafah sebagai negara diktator dengan tegas ia menyatakan bahwa itu merupakan cara pandang yang salah. Cara pandang itu lahir dari cara pandang sistem Kapitalisme Barat. Selain itu, opini yang ada 'digiring' ke polarisasi dua kutub; kalau tidak demokrasi, ya diktator. Tujuannya, agar kaum Muslim percaya bahwa jika tidak sistem demokrasi maka yang ada adalah sistem diktator.
“Mari kita lihat apakah sistem kekhalifahan itu dan mana yang bukan sistem kekhalifahan,” tegas pria kelahiran Inggris 7 Juli 1967 ini.
Khalifah adalah orang yang memerintah sepanjang berpegang pada Islam. Ia tidak berkata atau berbuat apa yang ia mau, melainkan harus merujuk pada Alquran, Sunah, Ijma Sahabat dan Qiyas. Tidak seperti yang ada sekarang.
Ia pun mencontohkan saat Pervez Musharaf masih menjadi presiden Pakistan. Musharaf terlihat sebagai orang yang berbuat baik, padahal ia merampas kekuasaan dari rakyat. Lalu pemerintahan Barat mendukungnya. Jika ini bukan diktator, lalu apa? Khalifah tidak seperti itu.
Khalifah mempunyai kewenangan memerintah secara total dan jika memerintah dengan menyimpang dari ketentuan Alquran dan Sunah maka ia bisa diturunkan. Sistem Khilafah tidak mempunyai istilah seperti di Barat, yakni pemilu setiap empat tahun atau lima tahun sekali, padahal presiden memerintah dengan semaunya.
Jadi bedanya, kalau Khalifah menyimpang, ia akan diturunkan tanpa perlu menunggu lima tahun. Ia tidaklah memerintah dengan semaunya. Sebab, semua kebijakannya hanya bersandar pada tuntunan Allah SWT. “Jadi, ide bahwa Khalifah adalah diktator itu tidak benar,” bantahnya.
Tegar
Sebelum bergabung dengan HT Inggris, ia memang sudah peduli terhadap permasalahan umat dan negeri-negeri Islam. “Tapi saya tidak tahu apa solusinya, apa yang seharusnya saya lakukan untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan itu,” ujar Salim kepada Media Umat menceritakan masa lalunya sebelum mengenal Hizbut Tahrir.
Ia mengenal Hizbut Tahrir untuk pertama kali pada tahun 1991. Pada saat itu ia sangat terkesan dengan kedalaman dan keluasan informasi seorang syabab Hizbut Tahrir. Berawal dari sekedar ngobrol soal tiket kereta api dalam pandangan Islam hingga membahas masalah keimanan dan demokrasi.
Salim terperangah ternyata demokrasi bertentangan dengan Islam. Dalam Islam, hanya Alquran, Hadits, Ijma Sahabat dan Qiyas saja yang dijadikan sumber hukum. Tetapi dalam demokrasi sumber hukum Islam itu hanya dijadikan salah satu opsi saja bahkan bila suara terbanyak menolaknya tentu tidak dijadikan opsi sama sekali.
“Saya belum pernah mendengar penjelasan sedetail itu sebelumnya,” akunya. Maklumlah ia lahir dari keluarga Muslim sekuler, tidak berpikir islami. Maka tidak aneh meski ia belajar di universitas Islam dan mengenal shalat tapi turut merayakan Natal, bergaul bebas dengan teman-teman wanita.
Salim semakin tertarik untuk mengaji lebih lanjut tentang Islam dan HT lantaran para aktivis HT mampu menjawab banyak pertanyaan yang bergelayut di benaknya. “Mereka menjawab dengan bukti dan fakta. Mereka menerapkan Islam pada setiap permasalahan,” ujarnya. Ia pun sadar dan berubah total.
Namun baru saja ia mencoba menjadi seorang Muslim sejati cobaan langsung menghampiri. Tidak tanggung-tanggung cobaan itu datang lewat istrinya. “Istri saya meminta saya untuk bertransaksi riba. Tentu saja saya menolaknya. Karena hal itu haram sebagaimana yang saya pahami selama belajar di Hizbut Tahrir,” ungkapnya.
Istrinya mengancam akan murtad dan meninggalkannya bila ia tetap tidak mau bertransaksi riba. Salim tetap teguh pendirian. Permasalahan ini pada akhirnya membuat istrinya murtad dan meninggalkannya.
Di kampus tempatnya mengajar pun cobaan menghadang. Seorang Muslim yang berbeda pendapat dengan HT telah melaporkan tuduhan miring tentang dirinya kepada pihak berwenang. Pihak berwenang akhirnya melarangnya untuk memberikan khutbah maupun ceramah. “Dekan universitas memperlakukan saya demikian cukup lama,” terang Salim.
Pada saat Konferensi Khilafah Internasional di Jakarta 2007 ia tampil sebagai pembicara. Sepulang dari menghadiri konferensi Khilafah di Indonesia, ia diskors dari pekerjaan dan ia pun memilih mengundurkan diri dari kantornya itu.
Petugas kepolisian pernah mendatangi rumahnya. Sejak saat itu pihak otoritas dan kepolisian terus mengawasinya. Pihak otoritas juga pernah menahannya di Bandara United Kingdom. “Terakhir di Dubai, pada saat kami akan menghadiri konferensi, pihak keamanan Dubai menyita semua barang-barang kami,” ujar Salim.
Semua cobaan itu ia hadapi dengan ikhlas dan penuh kesabaran. “ Karena bagaimanapun ujian dakwah yang saya alami masih belum seberapa jika dibandingkan dengan saudara-saudara kita di negeri-negeri Islam lainnnya,” pungkas Salim mantap.[] roni ruslan/joko prasetyo
http://mediaumat.com/sosok/2650-52-ikhlas-dan-sabar-hadapi-cobaan.html
Ricky Teddy: Rocker Juga Manusia
{mosimage}Bagi para penikmat musik, terutama rock, mungkin akan kaget ketika mengetahui sosok Ricky Teddy, 47 tahun, salah seorang dedengkot Group Band Jamrud kini lebih rajin mengkaji Islam dan berdakwah. Rumah Ricky, di Jl Permana Cimahi, Bandung, yang sebelumnya sering dijadikan tempat kongkow, nongkrong dan tempat minum-minum oleh teman-temannya, kini dijadikan base camp untuk mengkaji Islam. Setiap Jumat malam, sekitar 30 sampai 50 orang jamaah, yang merupakan teman-teman Ricky rutin hadir mengikuti kajian Islam Permana. Ricky sendiri mengaku kehidupan yang dirasakannya sejak empat tahun lalu ini lebih tenang dibanding sebelumnya, ketika masih 'jahiliyah'. Inilah kisah perjalanan hidupnya.
Kalau ditanya agamaku apa, aku pasti menjawab Islam. Karena sejak lahir orang tuaku Islam. Hingga sekarang agama yang tercantum di KTP-ku pun Islam. Namun terus terang aku tidak tahu banyak tentang Islam bahkan hingga aku berkeluarga. Waktu itu, yang bisa dikatakan aku hampir tidak pernah melaksanakan ajaran Islam seperti shalat atau membaca Alquran. Tentu ini bukan salah orang tuaku. Karena sejak kecil mereka telah menyuruhku shalat dan mengaji. Namun, mungkin karena kenakalanku, perintah itu tidak aku lakukan.
Tak pelak selama itu pula hidupku diliputi kegelisahan. Kalau ada orang beranggapan materi itu segalanya, atau memahami jika materi sudah terpenuhi maka akan mendapat kebahagiaan, itu keliru besar. Materi ternyata bukan segala-galanya. Bagiku materi itu hanya untuk penunjang saja. Buktinya meski aku punya segalanya, toh masih ada rasa takut dan gelisah. Itulah yang terjadi. Itu semua baru kusadari sejak aku mendalami Islam empat tahun yang lalu.
Anak Bertanya soal Shalat
Kesadaranku akan Islam muncul sejak berkeluarga, punya istri dan anak. Waktu itu mereka sering bertanya apa itu Islam, bagaimana cara mengerjakan shalat dan lainnya. Aku tidak bisa jawab. Aku bingung bagaimana menjawabnya. Berawal dari situ, aku memanggil seorang ustad untuk mengajarkan Alquran kepada mereka. Aku suruh anak dan istri belajar mengaji. Sementara aku sendiri belum tertarik, biarin saja, yang penting anak istri yang bisa.
Tapi lama kelamaan aku berpikir, harus juga mulai belajar Islam. Apalagi saat itu aku belum bisa membaca Alquran sama sekali. Diam-diam aku nimbrung saat mereka mengaji. Lama-lama keterusan. Alhamdulillah akhirnya aku bisa juga membaca Alquran, meski masih terbata-bata. Sedikit demi sedikit kemampuanku bertambah. Aku pun mulai belajar tata cara shalat dan ajaran Islam lainnya.
Sebagai imam dalam rumah tangga, aku berkewajiban mendidik anak istri dengan ajaran Islam. Dan alhamdulillah anak istri semuanya mau hijrah. Aku juga mengajak hijrah keluarga yang lain dan teman-teman. Tapi itu tidak mudah. Sebagian mereka bisa menerima, sedang yang lainnya belum bisa. Bahkan ada yang bilang aku ini fanatik. Ketika ada yang bilang seperti itu, aku bilang ya nggak apa-apa. Aku hanya bisa berdoa semoga mereka itu bisa segera hijrah.
Sebenarnya ketika aku pertama kali mau shalat, ada perasaan malu. Masa rocker shalat. Karena ada perasaan malu itulah, aku pun melakukannya dengan ngumpet-ngumpet. Namun akhirnya aku sadar juga, tidak mungkin aku melakukan shalat sambil ngumpet terus. Aku harus melakukannya terang-terangan. Minimal kan dengan aku shalat ini bisa mengingatkan mereka yang belum shalat untuk shalat.
Takut Ketinggian
Aku ini takut 'ketinggian'. Sementara profesiku di Jamrud itu, mobilitasnya selalu naik pesawat. Ketika naik pesawat, maka rasa takut pun kerap menghantuiku. Kalau pesawat itu pasti jatuh, tewaslah kita. Itulah yang selalu kebayang. Sering wajahku pun pucat pasi dan keringatan. Secara mental aku benar-benar merasa tersiksa. Ini lebih parah dibandingkan tersiksa secara fisik.
Setelah merenung dan mulai belajar Islam, akhirnya aku bisa memahami bahwa hal itu wajar terjadi pada manusia. Setiap manusia itu lemah. Pasti ia tergantung kepada sesuatu. Ada saat-saat yang bisa kita kuasai dan ada saat yang kita dikuasai. Di saat tidak dikuasai itulah kita harus pasrah.
Ketika naik pesawat misalnya, di situ ada pilihan pesawat apa yang akan kita ditumpangi. Tapi ketika sudah memilih pesawat dan sudah di atas, maka kita harus pasrah. Karenanya setelah tahu Islam, sebelum berangkat dan naik pesawat aku pun selalu berdoa kepada Allah.
Sebelumnya tidak seperti itu. Ketika di atas pesawat, aku berusaha melawan rasa takut itu. Macam-macam kegiatan dilakukan, seperti minum khamr dan lainnya. Alhamdulillah saat itu tidak sampai kecelakaan. Tidak terbayang, kalau saat itu celaka dan belum beriman, ke mana aku nanti setelah meninggal?
Enak Ngaji Dibanding Manggung
Terus terang, sejak banyak mengkaji Islam, aku sering diminta untuk mengisi talkshow tentang masalah keislaman. Talk show di sini dalam artian aku menjadi motivator. Keilmuanku sebenarnya masih minim. Tapi meski begitu aku tetap sampaikan ilmu itu ke banyak orang di talk show tersebut. Aku katakan ini bukan profesi. Tapi ini kewajiban aku sebagai orang Islam.
Mengisi talkshow bagi aku adalah kepuasan tersendiri. Aku merasa lebih nyaman mengisi talk show dibanding ketika manggung nyanyi. Ini yang aku rasakan. Di sini aku bisa menyampaikan tentang keislaman yang dipahami ke banyak orang.
Karena itu aku sampaikan pesan kepada umat Islam, khususnya para penggemar Jamrud, mudah-mudahan mereka mau ngaji agar paham tentang Islam, kemudian mau mengamalkan dan selanjutnya bisa menyampaikan lagi ke teman-teman lainnya. Jangan dikira baik itu untuk sendiri saja, karena menurut hadist tidak dikatakan beriman seseorang sebelum peduli kepada orang lain. [] Pendi
{mosimage}Didit, Teman Dekat Ricky
Saat Ricky belum banyak mengenal Islam dan belum ada pengjian rutin di rumahnya, kita-kita ini hidup agak bebas dan biasa minum minuman yang memabukkan. Tapi setelah Ricky berubah setidaknya kita segan untuk minum-minum lagi. Kita jadi malu sendiri. Awalnya kita merasakan agak aneh juga melihat perubahan Ricky itu.
Tidak nyangka Ricky bisa seperti sekarang ini. Kelebihan dia, setelah kenal sama ustad-ustad adalah banyak membaca buku-buku Islam. Karena itu bisa dikatakan di antara teman-temannya, Ricky itu ya ustad. Karena apa yang dibicarakan itu ada dalilnya.
{mosimage}Budi Mulyana, Guru ngaji Ricky
Aku harapkan mudah-mudahan kang Ricky bisa istiqamah. Insya Allah beliau bisa berproses ke arah yang lebih baik. Mengamati perubahannya, aku salut. Dia dan teman-temannya mau terus mengkaji Islam meski pun kepada orang yang usianya lebih muda. Padahal tidak semua orang bisa mendengar perkataan orang di bawah usianya.
http://mediaumat.com/sosok/57.html
Kalau ditanya agamaku apa, aku pasti menjawab Islam. Karena sejak lahir orang tuaku Islam. Hingga sekarang agama yang tercantum di KTP-ku pun Islam. Namun terus terang aku tidak tahu banyak tentang Islam bahkan hingga aku berkeluarga. Waktu itu, yang bisa dikatakan aku hampir tidak pernah melaksanakan ajaran Islam seperti shalat atau membaca Alquran. Tentu ini bukan salah orang tuaku. Karena sejak kecil mereka telah menyuruhku shalat dan mengaji. Namun, mungkin karena kenakalanku, perintah itu tidak aku lakukan.
Tak pelak selama itu pula hidupku diliputi kegelisahan. Kalau ada orang beranggapan materi itu segalanya, atau memahami jika materi sudah terpenuhi maka akan mendapat kebahagiaan, itu keliru besar. Materi ternyata bukan segala-galanya. Bagiku materi itu hanya untuk penunjang saja. Buktinya meski aku punya segalanya, toh masih ada rasa takut dan gelisah. Itulah yang terjadi. Itu semua baru kusadari sejak aku mendalami Islam empat tahun yang lalu.
Anak Bertanya soal Shalat
Kesadaranku akan Islam muncul sejak berkeluarga, punya istri dan anak. Waktu itu mereka sering bertanya apa itu Islam, bagaimana cara mengerjakan shalat dan lainnya. Aku tidak bisa jawab. Aku bingung bagaimana menjawabnya. Berawal dari situ, aku memanggil seorang ustad untuk mengajarkan Alquran kepada mereka. Aku suruh anak dan istri belajar mengaji. Sementara aku sendiri belum tertarik, biarin saja, yang penting anak istri yang bisa.
Tapi lama kelamaan aku berpikir, harus juga mulai belajar Islam. Apalagi saat itu aku belum bisa membaca Alquran sama sekali. Diam-diam aku nimbrung saat mereka mengaji. Lama-lama keterusan. Alhamdulillah akhirnya aku bisa juga membaca Alquran, meski masih terbata-bata. Sedikit demi sedikit kemampuanku bertambah. Aku pun mulai belajar tata cara shalat dan ajaran Islam lainnya.
Sebagai imam dalam rumah tangga, aku berkewajiban mendidik anak istri dengan ajaran Islam. Dan alhamdulillah anak istri semuanya mau hijrah. Aku juga mengajak hijrah keluarga yang lain dan teman-teman. Tapi itu tidak mudah. Sebagian mereka bisa menerima, sedang yang lainnya belum bisa. Bahkan ada yang bilang aku ini fanatik. Ketika ada yang bilang seperti itu, aku bilang ya nggak apa-apa. Aku hanya bisa berdoa semoga mereka itu bisa segera hijrah.
Sebenarnya ketika aku pertama kali mau shalat, ada perasaan malu. Masa rocker shalat. Karena ada perasaan malu itulah, aku pun melakukannya dengan ngumpet-ngumpet. Namun akhirnya aku sadar juga, tidak mungkin aku melakukan shalat sambil ngumpet terus. Aku harus melakukannya terang-terangan. Minimal kan dengan aku shalat ini bisa mengingatkan mereka yang belum shalat untuk shalat.
Takut Ketinggian
Aku ini takut 'ketinggian'. Sementara profesiku di Jamrud itu, mobilitasnya selalu naik pesawat. Ketika naik pesawat, maka rasa takut pun kerap menghantuiku. Kalau pesawat itu pasti jatuh, tewaslah kita. Itulah yang selalu kebayang. Sering wajahku pun pucat pasi dan keringatan. Secara mental aku benar-benar merasa tersiksa. Ini lebih parah dibandingkan tersiksa secara fisik.
Setelah merenung dan mulai belajar Islam, akhirnya aku bisa memahami bahwa hal itu wajar terjadi pada manusia. Setiap manusia itu lemah. Pasti ia tergantung kepada sesuatu. Ada saat-saat yang bisa kita kuasai dan ada saat yang kita dikuasai. Di saat tidak dikuasai itulah kita harus pasrah.
Ketika naik pesawat misalnya, di situ ada pilihan pesawat apa yang akan kita ditumpangi. Tapi ketika sudah memilih pesawat dan sudah di atas, maka kita harus pasrah. Karenanya setelah tahu Islam, sebelum berangkat dan naik pesawat aku pun selalu berdoa kepada Allah.
Sebelumnya tidak seperti itu. Ketika di atas pesawat, aku berusaha melawan rasa takut itu. Macam-macam kegiatan dilakukan, seperti minum khamr dan lainnya. Alhamdulillah saat itu tidak sampai kecelakaan. Tidak terbayang, kalau saat itu celaka dan belum beriman, ke mana aku nanti setelah meninggal?
Enak Ngaji Dibanding Manggung
Terus terang, sejak banyak mengkaji Islam, aku sering diminta untuk mengisi talkshow tentang masalah keislaman. Talk show di sini dalam artian aku menjadi motivator. Keilmuanku sebenarnya masih minim. Tapi meski begitu aku tetap sampaikan ilmu itu ke banyak orang di talk show tersebut. Aku katakan ini bukan profesi. Tapi ini kewajiban aku sebagai orang Islam.
Mengisi talkshow bagi aku adalah kepuasan tersendiri. Aku merasa lebih nyaman mengisi talk show dibanding ketika manggung nyanyi. Ini yang aku rasakan. Di sini aku bisa menyampaikan tentang keislaman yang dipahami ke banyak orang.
Karena itu aku sampaikan pesan kepada umat Islam, khususnya para penggemar Jamrud, mudah-mudahan mereka mau ngaji agar paham tentang Islam, kemudian mau mengamalkan dan selanjutnya bisa menyampaikan lagi ke teman-teman lainnya. Jangan dikira baik itu untuk sendiri saja, karena menurut hadist tidak dikatakan beriman seseorang sebelum peduli kepada orang lain. [] Pendi
{mosimage}Didit, Teman Dekat Ricky
Saat Ricky belum banyak mengenal Islam dan belum ada pengjian rutin di rumahnya, kita-kita ini hidup agak bebas dan biasa minum minuman yang memabukkan. Tapi setelah Ricky berubah setidaknya kita segan untuk minum-minum lagi. Kita jadi malu sendiri. Awalnya kita merasakan agak aneh juga melihat perubahan Ricky itu.
Tidak nyangka Ricky bisa seperti sekarang ini. Kelebihan dia, setelah kenal sama ustad-ustad adalah banyak membaca buku-buku Islam. Karena itu bisa dikatakan di antara teman-temannya, Ricky itu ya ustad. Karena apa yang dibicarakan itu ada dalilnya.
{mosimage}Budi Mulyana, Guru ngaji Ricky
Aku harapkan mudah-mudahan kang Ricky bisa istiqamah. Insya Allah beliau bisa berproses ke arah yang lebih baik. Mengamati perubahannya, aku salut. Dia dan teman-temannya mau terus mengkaji Islam meski pun kepada orang yang usianya lebih muda. Padahal tidak semua orang bisa mendengar perkataan orang di bawah usianya.
http://mediaumat.com/sosok/57.html
Hari Moekti: Hidup itu Pilihan!
HARI MOEKTI " ketika jadi Rocker kondang "
HARI MOEKTI " Ketika hidupnya ia dedikasikan untuk Dakwah melanjutkan kehidupan Islam "
{mosimage}Sindiran apa yang kudapat, ”Hari Moekti itu bagaikan lilin yang menyala, bermanfaat menerangi lingkungan tetapi tubuhnya terbakar”.
Ramadhan 1995, aku diundang dalam acara dialog interaktif 'Buka Puasa Bersama Artis' di SMAK Analisis Kimia Bogor. Saat itu dialog dengan Adi Maretnas dengan moderator Muhammad Syamsul Arifin. Adi ini kok pinter banget, pikirku. Masih muda tapi otaknya seperti kiai saja, karena semua argumenku terbantahkan. Usai acara Syamsul ngobrol denganku. Dia mengajak aku untuk mengaji kepadanya. Aku bertanya, boleh enggak aku mengaji lagi di tempat lain. ”Boleh, ngaji itu bisa ke mana saja. ”Yang penting kita punya pemahaman,” jawab Syamsul. “Pemahaman apa?” tanyaku.”Kepemimpinan berpikir, pemimpin kita itu bukan perasaan tetapi pikiran kita yang diatur oleh syariah Islam. Jadikanlah Islam sebagai kepemimpinan berpikir” tandasnya.
”Intelek sekali, hebat banget ucapan-ucapan kayak begini,” ujarku dalam hati. Ia berbicara panjang lebar. Akhirnya aku mengerti ternyata sekitar 80 persen ajaran Islam adalah terkait politik. Artinya sebagian besar ajaran Islam itu mengatur seluruh kehidupan manusia, seperti pendidikan, ekonomi, budaya, peradilan, pemerintahan dan lainnya. Sisanya, ya terkait ibadah mahdlah dan lainnya.
Seperti Lilin
Sejak itu aku dibina seorang ustadz muda secara rutin dengan berbagai dalil. Di antaranya Surat Al-Mulk ayat 2, agar Dia menguji kalian siapa di antara kalian yang amal perbuatannya paling sempurna. Aku sebagai artis banyak amalnya. Membangun masjid, sunatan massal, sedekah menyekolahkan anak-anak orang miskin tetanggaku dan menyantuni anak yatim. Sindiran apa yang kudapat, ”Hari Moekti itu bagaikan lilin yang menyala bermanfaat menerangi lingkungan tetapi tubuhnya terbakar”. Artinya, pikiranku, hartaku, tenagaku, itu bermanfaat bagi orang lain tetapi akan mencelakakanku di akhirat, karena tidak mendapat ridla Allah.
Benarkah amalku selama ini tidak diridhai Allah? Aku terus mencari jawaban. Ayat Al Mulk itu ternyata menjelaskan bahwa ahsan amalan (perbuatan terbaik) itu harus dilandasi dengan niat ikhlas dan cara yang benar berdasarkan tuntunan Rasulullah. Aku lalu berpikir, apakah waktu menyumbang niatku ikhlas dan memperolehnya dengan benar? Dari situlah aku belajar memahami Surat Al-Fatihah, Alhamdulillahirabbil 'alamiin, segala puji bagi Allah Yang mengatur alam semesta. Maknanya, tidak layak dipuji, tidak layak memuji selain Allah. Sebagai artis, aku selalu ingin dipuji, selalu ingin memuja selain Allah. Sedangkan orang yang ihsan itu Mukmin yang beribadah, semata-mata hanya karena Allah.
Orang ikhlas itu selalu menutupi amal shalihnya sebagaimana ia menutupi keburukannya. Seperti orang yang kentut tanpa suara tapi baunya ke mana-mana. Pasti malu bila ketahuan kentut. Agar tidak ketahuan, pura-pura tidak merasa kentut. Jadi kalau orang ikhlas itu amal shalihnya bila tercium orang lain pura-pura tidak tahu. Kalau aku, saat itu, malah senang diberitakan di radio, televisi dan koran. Harusnya seperti orang yang kentut tadi, ia berharap agar baunya cepat-cepat hilang, bersyukur kalau tidak ada orang yang mengetahui kalau ia yang kentut.
Lantas apakah harta yang kuperoleh itu dari jalan yang benar? Pertanyaan itu berkecamuk dalam benakku. Ihdinashirathal mustaqiim, tunjukilah kami jalan yang lurus. Jalan yang lurus itu sirathal ladziina an'amta 'alaihim, jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, yakni Nabi-Nabi dan para pengikut setianya. Bukti sebagai pengikut setia itu ya tentu saja yang mengikuti Nabi Muhammad SAW. Karena, tidak beriman seseorang di antara kalian, sehingga hawa nafsunya mengikuti apa-apa yang kubawa, begitu sabda Nabi SAW. Apa yang Nabi Muhammad SAW bawa? Yaitu Alquran dan Sunnah. Yang kemudian diijtihad oleh para mujtahid dan diperkenalkanlah kepada kita sebagai syariah Islam dengan hukum yang lima itu, wajib, sunah, mubah, makruh dan haram.
Ghairil maghdhubi 'alaihim, dan bukan jalannya orang-orang yang Engkau murkai. Mengapa kaumYahudi dimurkai padahal mereka adalah orang-orang yang cerdas? Ya karena kecerdasannya dipakai untuk merusak umat Islam. Jadi artis sebenarnya adalah ujung tombak Yahudi untuk menyebarkan paham setan, di antaranya adalah seks bebas dan sinkretisme agama. ”Jadi aku harus meninggalkan dunia artis ini?” tanyaku. ”Oh terserah Kang Hari, ente kan sudah paham tentang qadla dan qadar bahwa hidup itu pilihan,” ujar Syamsul.
Terus aku berdoa kepada Allah, ”Ya Allah berikan aku kekuatan untuk mampu meninggalkan apa saja yang Engkau tidak sukai dan gantikanlah aktivitas kehidupanku ke aktivitas yang Engkau ridhai”. Doa itu kupanjatkan di Padang Arafah ketika ibadah Haji awal tahun 1996. Pulang naik haji, aku berubah total. Tanpa ragu kutinggalkan dunia artis ketika kontrak sinetron dan iklan tinggal kutandatangani saja. Bahkan kontrak menyanyi yang sedang berlangsung, kubatalkan. Karena aku paham, dunia artis itu banyak keharamannya.
Memang, hukum nyanyinya sih mubah tetapi aktivitas lainnya yang terkait nyanyi banyak haramnya. Aku baru naik panggung saja, para penonton sudah mabuk. Campur baur laki-laki dan perempuan. Aku nyanyi, yang nonton memujaku, jatuh syirik nantinya. Si penyanyinya itu, tidak bisa dihilangkan dari rasa ingin dipuji, ujub namanya. Itu yang aku rasakan. Dua belas tahun aku sebagai artis dipuja-puja setan. Ternyata, saat itu, aku juga setan. Astaghfirullah.
Satu setengah tahun sejak dialog di SMAK itu, aku baru ngeh bahwa ustadz muda itu adalah aktivis Hizbut Tahrir. Kemudian aku diminta bergabung berdakwah, berjuang bersama untuk menyadarkan umat agar mau menegakkan kembali institusi politik Islam yakni Khilafah Islam. Aku jawab, kenapa tidak dari dulu saja Tadz![] joko prasetyo
http://mediaumat.com/sosok/474.html
Prof. Hassan Ko Nakata (Cendekiawan Jepang): Dunia Butuh Khilafah
Namanya mencuat di Indonesia ketika ada Konferensi Khilafah Internasional (KKI) di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Agustus 2007. Ia adalah salah satu pembicara kegiatan akbar yang menghentak dunia pada saat itu. Sebelumnya kaum Muslim di Indonesia tak banyak tahu ada seorang cendekiawan Jepang yang begitu besar perhatiannya terhadap dakwah Islam.
Prof. Hassan Ko Nakata (49) adalah satu dari sedikit kaum intelektual di negeri matahari terbit yang tertarik pada Islam. Ia mengaku masuk Islam pada tahun 1983. Itu pun dilakukannya setelah 15 tahun mempelajari Islam. Cukup lama untuk sebuah keputusan yang buat kebanyakan orang di Indonesia adalah hal biasa, tapi tidak untuk orang Jepang karena agama bagi orang Jepang sudah out of mind (berada di luar semesta pemikiran). Kebanyakan orang Jepang tak lagi memerhatikan agama.
Presiden Asosiasi Muslim Jepang ini masuk Islam ketika menjadi mahasiswa di tahun ketiga di Fakultas Studi Islam di Tokyo University. Sebelumnya ia sangat familiar dengan agama Kristen. Tak heran ketika awal kuliah di Tokyo University, ia mengikuti kelompok kajian Bibel. Di situlah ada kajian tentang perbandingan agama.
Di sana ada perbandingan agama Kristen, Yahudi, Shinto, Budha, dan Islam. Ketika menimbang dan membanding selama sekitar setahun ia merasa ajaran Islamlah yang paling menyeluruh. “Saya menemukan bahwa Islamlah sistem hidup yang paling komprehensif, paling rasional dan konsisten, dan akhirnya atas rahmat Allah SWT saya memutuskan untuk masuk Islam,” tuturnya. Ia pun menambahkan Hassan di depan nama aslinya. Ia pernah mendalami tarekat Naqshabandiyah dan Syaziliah. “Namun saya bukan murid yang baik,” ujarnya.
Usai bergelar sarjana, Hassan ingin lebih memperdalam Islam. Namun belum ada program master Kajian Islam di universitas Jepang. Buku-buku Islam berhuruf kanji pun masih sulit didapat. Untunglah tak lama kemudian Universitas Tokyo membuka program master Kajian Islam. ''Saya menjadi mahasiswa Muslim pertama dan terakhir di jurusan Islamic Studies Universitas Tokyo selama 25 tahun ini,'' ujar Profesor ini.
Setelah menyelesaikan masternya di Tokyo University, ia melanjutkan studi doktornya di Universitas Kairo. Disertasianya tentang Pemikiran Politik Ibn Taymiyah (al-Fikratu al-Siyasatu 'inda Ibni Taymiya). Dalam disertasi itu ia menjelaskan keunikan pemikiran politik Ibnu Taymiyah dalam sejarah pemikiran politik dan pengaruhnya terhadap gerakan politik kontemporer, termasuk terhadap Hizbut Tahrir. Setelah lulus doktor, Hassan sempat menjadi peneliti Kedutaan Jepang di Saudi Arabia (1992-1995). Tak heran ia sangat fasih berbahasa Arab.
Kiprahnya dalam dakwah di Negeri Sakura ini tergolong menonjol. Karakteristik orang Jepang sekarang cuek terhadap agama memacunya mencari jalan untuk bisa mendakwahkan Islam. Terlebih lagi sangat sedikit dai yang berkualitas.
Satu-satunya jalan terbaik untuk menyebarkan Islam di Jepang, menurutnya, adalah melalui pengaruh personal dari pelaku dakwah yang memiliki pengetahuan yang luas dan mendalam tentang Islam dengan kepribadian yang baik serta memahami budaya Jepang.
Ia bersama minoritas Muslim Jepang melakukan berbagai upaya, di antaranya menerjemahkan sejumlah kitab klasik seperti Tafsir al-Jalalain, al-Siyasah al-Syar'iyyah of Ibn Taimiyyah, dan Zad al-Mustaqni' al-Hujawi al-Hanbali, juga menerbitkan majalah bulanan yang disebarkan secara cuma-cuma kepada seluruh Muslim Jepang di seluruh dunia sebagai media informasi dan komunikasi.
Hassan Ko Nakata kini menjadi Presiden Asosiasi Muslim Jepang sembari mengajar Kajian Islam di Universitas Doshisha, Kyoto. Mayoritas mahasiswanya justru beragama Kristen. Selama empat tahun menjadi Guru Besar di Doshisha, Hassan berhasil memikat empat mahasiswanya yang semula atheis untuk masuk Islam.
Kontak dengan Hizbut Tahrir
Banyak orang mengira bahwa profesor ini adalah anggota Hizbut Tahrir (HT) sebab pandangan-pandangannya tentang Islam mempunyai kesamaan dengan pemikiran HT. Ternyata ia memang memiliki kontak dengan anggota HT.
Kontak itu terjadi ketika ia mengunjungi Arab Saudi. Ia bertemu dengan syabab HT di negeri itu. Syabab ini seorang dokter dan kini tinggal di Kanada. Dari dokter inilah ia mengetahui banyak soal pemikiran-pemikiran HT tentang keharusan menegakkan Khilafah.
Ia mengaku sangat terkesan dengan pertemuan itu. Menurutnya, Hizbut Tahrir adalah satu-satunya gerakan politik Islam yang memiliki teori politik yang konsisten dan terintegrasi yang disusun berdasarkan pemahaman yang mendalam terhadap syariah dan realitas Dunia Islam kontemporer.
“Saya tidak yakin bahwa kita, umat Islam, dapat menegakkan kembali Khilafah hanya dengan usaha kita semata. Tapi saya percaya bahwa satu-satunya jalan untuk menegakkan kembali Khilafah, di luar adanya keajaiban dari Allah, adalah melalui usaha dengan metodologi yang berdasar pada pemikiran politik Hizbut Tahrir. Hanya, pemikiran itu memerlukan pengembangan dan penyesuaian sesuai dengan perubahan-perubahan kontemporer yang terjadi di dunia,” kata Profesor Hassan.
Ketika berbicara di hadapan 100 ribu orang yang memadati Stadion Utama Gelora Bung Karno Agustus 2007, ia mengatakan, “Dalam konteks dunia Islam kontemporer, hanya Hizbut Tahrirlah yang bisa dikatakan sebagai “gerakan politik Islam” yang memperjuangkan terealisasinya Khilafah yang merupakan panggilan universal; tidak hanya untuk umat Islam, tetapi lebih dari itu.”
Ia mengatakan bahwa Khilafah tidak hanya dapat diterima oleh komunitas non Muslim, namun juga sangat diinginkan oleh mereka yang percaya kepada kesetaraan, keadilan, kebebasan dan kemanusiaan. Alasannya, sistem Khilafah memiliki pemerintahan “membumi” atau “bersifat keduniaan” yang menjamin otonomi komunitas beragama dalam konteks sosial yang sangat beragam. Sistem Khilafah ini juga berfungsi sebagai sarana pembebasan untuk mengentaskan sistem negara bangsa yang eksplotitatif yang memenjarakan dalam penjara “negara bangsa”.
Ia menyebutkan dua peran ganda Hizbut Tahrir, yakni mencerahkan umat Islam akan kewajiban mereka dalam mendirikan kembali Khilafah sesuai dengan hukum syariah dan menjelaskan misi Islam universal dari sistem Khilafah kepada dunia Barat dengan sudut pandang ilmu sosial negara Barat.
Dalam konteks itu, ia menyimpulkan bahwa Indonesia merupakan tempat terbaik untuk menjalankan misi Islam ini karena kondisinya yang tidak ditemukan di negeri Muslim lainnya.[] mujiyanto
Biodata Prof Hassan Ko Nakata
Lahir : Okayama, Jepang, 22 Juli 1960
Karir Akademis:
1984 : Sarjana Islamic Studies Universitas Tokyo
1986 : Master Islamic Studies Universitas Tokyo
1992 : Ph.D Islamic Philosophy Universitas Kairo
1992-1995 : Peneliti Kedutaan Jepang di Saudi Arabia
1995-2003 : Guru Besar di Universitas Yamaguchi
1997-1998 : Direktur Pusat Studi Kairo di Japanese Society for Promotion of Sciences
2003-sekarang : Guru Besar Fakultas Teologi dan Wakil Direktur Pusat Studi Agama-agama Monoteis di Universitas Doshisha. Saat ini mengawasi proses penerjemahan Tafsir Jalalain ke bahasa Jepang yang dikerjakan oleh Habibah Kaori Nakata.
http://mediaumat.com/sosok/1051.html
Prof. Hassan Ko Nakata (49) adalah satu dari sedikit kaum intelektual di negeri matahari terbit yang tertarik pada Islam. Ia mengaku masuk Islam pada tahun 1983. Itu pun dilakukannya setelah 15 tahun mempelajari Islam. Cukup lama untuk sebuah keputusan yang buat kebanyakan orang di Indonesia adalah hal biasa, tapi tidak untuk orang Jepang karena agama bagi orang Jepang sudah out of mind (berada di luar semesta pemikiran). Kebanyakan orang Jepang tak lagi memerhatikan agama.
Presiden Asosiasi Muslim Jepang ini masuk Islam ketika menjadi mahasiswa di tahun ketiga di Fakultas Studi Islam di Tokyo University. Sebelumnya ia sangat familiar dengan agama Kristen. Tak heran ketika awal kuliah di Tokyo University, ia mengikuti kelompok kajian Bibel. Di situlah ada kajian tentang perbandingan agama.
Di sana ada perbandingan agama Kristen, Yahudi, Shinto, Budha, dan Islam. Ketika menimbang dan membanding selama sekitar setahun ia merasa ajaran Islamlah yang paling menyeluruh. “Saya menemukan bahwa Islamlah sistem hidup yang paling komprehensif, paling rasional dan konsisten, dan akhirnya atas rahmat Allah SWT saya memutuskan untuk masuk Islam,” tuturnya. Ia pun menambahkan Hassan di depan nama aslinya. Ia pernah mendalami tarekat Naqshabandiyah dan Syaziliah. “Namun saya bukan murid yang baik,” ujarnya.
Usai bergelar sarjana, Hassan ingin lebih memperdalam Islam. Namun belum ada program master Kajian Islam di universitas Jepang. Buku-buku Islam berhuruf kanji pun masih sulit didapat. Untunglah tak lama kemudian Universitas Tokyo membuka program master Kajian Islam. ''Saya menjadi mahasiswa Muslim pertama dan terakhir di jurusan Islamic Studies Universitas Tokyo selama 25 tahun ini,'' ujar Profesor ini.
Setelah menyelesaikan masternya di Tokyo University, ia melanjutkan studi doktornya di Universitas Kairo. Disertasianya tentang Pemikiran Politik Ibn Taymiyah (al-Fikratu al-Siyasatu 'inda Ibni Taymiya). Dalam disertasi itu ia menjelaskan keunikan pemikiran politik Ibnu Taymiyah dalam sejarah pemikiran politik dan pengaruhnya terhadap gerakan politik kontemporer, termasuk terhadap Hizbut Tahrir. Setelah lulus doktor, Hassan sempat menjadi peneliti Kedutaan Jepang di Saudi Arabia (1992-1995). Tak heran ia sangat fasih berbahasa Arab.
Kiprahnya dalam dakwah di Negeri Sakura ini tergolong menonjol. Karakteristik orang Jepang sekarang cuek terhadap agama memacunya mencari jalan untuk bisa mendakwahkan Islam. Terlebih lagi sangat sedikit dai yang berkualitas.
Satu-satunya jalan terbaik untuk menyebarkan Islam di Jepang, menurutnya, adalah melalui pengaruh personal dari pelaku dakwah yang memiliki pengetahuan yang luas dan mendalam tentang Islam dengan kepribadian yang baik serta memahami budaya Jepang.
Ia bersama minoritas Muslim Jepang melakukan berbagai upaya, di antaranya menerjemahkan sejumlah kitab klasik seperti Tafsir al-Jalalain, al-Siyasah al-Syar'iyyah of Ibn Taimiyyah, dan Zad al-Mustaqni' al-Hujawi al-Hanbali, juga menerbitkan majalah bulanan yang disebarkan secara cuma-cuma kepada seluruh Muslim Jepang di seluruh dunia sebagai media informasi dan komunikasi.
Hassan Ko Nakata kini menjadi Presiden Asosiasi Muslim Jepang sembari mengajar Kajian Islam di Universitas Doshisha, Kyoto. Mayoritas mahasiswanya justru beragama Kristen. Selama empat tahun menjadi Guru Besar di Doshisha, Hassan berhasil memikat empat mahasiswanya yang semula atheis untuk masuk Islam.
Kontak dengan Hizbut Tahrir
Banyak orang mengira bahwa profesor ini adalah anggota Hizbut Tahrir (HT) sebab pandangan-pandangannya tentang Islam mempunyai kesamaan dengan pemikiran HT. Ternyata ia memang memiliki kontak dengan anggota HT.
Kontak itu terjadi ketika ia mengunjungi Arab Saudi. Ia bertemu dengan syabab HT di negeri itu. Syabab ini seorang dokter dan kini tinggal di Kanada. Dari dokter inilah ia mengetahui banyak soal pemikiran-pemikiran HT tentang keharusan menegakkan Khilafah.
Ia mengaku sangat terkesan dengan pertemuan itu. Menurutnya, Hizbut Tahrir adalah satu-satunya gerakan politik Islam yang memiliki teori politik yang konsisten dan terintegrasi yang disusun berdasarkan pemahaman yang mendalam terhadap syariah dan realitas Dunia Islam kontemporer.
“Saya tidak yakin bahwa kita, umat Islam, dapat menegakkan kembali Khilafah hanya dengan usaha kita semata. Tapi saya percaya bahwa satu-satunya jalan untuk menegakkan kembali Khilafah, di luar adanya keajaiban dari Allah, adalah melalui usaha dengan metodologi yang berdasar pada pemikiran politik Hizbut Tahrir. Hanya, pemikiran itu memerlukan pengembangan dan penyesuaian sesuai dengan perubahan-perubahan kontemporer yang terjadi di dunia,” kata Profesor Hassan.
Ketika berbicara di hadapan 100 ribu orang yang memadati Stadion Utama Gelora Bung Karno Agustus 2007, ia mengatakan, “Dalam konteks dunia Islam kontemporer, hanya Hizbut Tahrirlah yang bisa dikatakan sebagai “gerakan politik Islam” yang memperjuangkan terealisasinya Khilafah yang merupakan panggilan universal; tidak hanya untuk umat Islam, tetapi lebih dari itu.”
Ia mengatakan bahwa Khilafah tidak hanya dapat diterima oleh komunitas non Muslim, namun juga sangat diinginkan oleh mereka yang percaya kepada kesetaraan, keadilan, kebebasan dan kemanusiaan. Alasannya, sistem Khilafah memiliki pemerintahan “membumi” atau “bersifat keduniaan” yang menjamin otonomi komunitas beragama dalam konteks sosial yang sangat beragam. Sistem Khilafah ini juga berfungsi sebagai sarana pembebasan untuk mengentaskan sistem negara bangsa yang eksplotitatif yang memenjarakan dalam penjara “negara bangsa”.
Ia menyebutkan dua peran ganda Hizbut Tahrir, yakni mencerahkan umat Islam akan kewajiban mereka dalam mendirikan kembali Khilafah sesuai dengan hukum syariah dan menjelaskan misi Islam universal dari sistem Khilafah kepada dunia Barat dengan sudut pandang ilmu sosial negara Barat.
Dalam konteks itu, ia menyimpulkan bahwa Indonesia merupakan tempat terbaik untuk menjalankan misi Islam ini karena kondisinya yang tidak ditemukan di negeri Muslim lainnya.[] mujiyanto
Biodata Prof Hassan Ko Nakata
Lahir : Okayama, Jepang, 22 Juli 1960
Karir Akademis:
1984 : Sarjana Islamic Studies Universitas Tokyo
1986 : Master Islamic Studies Universitas Tokyo
1992 : Ph.D Islamic Philosophy Universitas Kairo
1992-1995 : Peneliti Kedutaan Jepang di Saudi Arabia
1995-2003 : Guru Besar di Universitas Yamaguchi
1997-1998 : Direktur Pusat Studi Kairo di Japanese Society for Promotion of Sciences
2003-sekarang : Guru Besar Fakultas Teologi dan Wakil Direktur Pusat Studi Agama-agama Monoteis di Universitas Doshisha. Saat ini mengawasi proses penerjemahan Tafsir Jalalain ke bahasa Jepang yang dikerjakan oleh Habibah Kaori Nakata.
http://mediaumat.com/sosok/1051.html
Sabtu, 28 Mei 2011
Budi Kristyanto: Dari Vatikan Hingga Khilafah
Budi Kristyanto
(Aktivis Dakwah asal Jakarta) |
Vatikan yang hanya mengurus masalah ibadah atau kerohanian saja, sudah begitu solidnya. Apalagi kalau Khilafah muncul lagi.
Aku anak ketiga dari tujuh bersaudara. Terlahir di tengah keluarga Kristen Katolik yang taat di Jakarta pada 23 Desember 1979 dengan nama Ignatius Budi Kristyanto. Setiap Minggu aku rajin ke gereja. Bahkan rumahku pun sering dijadikan tempat koor teman-teman orang tuaku.
Ayah mendidik anak-anaknya untuk terbuka dan kritis. Tidak menelan mentah-mentah informasi apalagi yang terkait dengan keyakinan. Apa yang menjadi gejolak pencarian kebenarannya selalu dilempar pula ke anak-anaknya termasuk aku, padahal aku masih SD.
Ia pun menceritakan dialognya dengan Romo di gereja. “Yesus itu siapa? Kalau Yesus adalah Tuhan mengapa ia diciptakan? Mengapa Tuhan ada tiga? Padahal dalam Bible sendiri Yesus tidak pernah menyebut dirinya sebagai Tuhan. Sayangnya Romo selalu menjawab seperti ini: “Jika saya jawab keimanan kamu akan menurun”.
“Itu jawaban tidak bijak,” ujar ayah. Sehingga aku menjadi ikut berpikir. Sejak saat itu pun aku mulai meragukan trinitas dan mulai meyakini Yesus bukan Tuhan.
Kecewa
Meskipun nyebelin, karena mereka suka nyentil-nyentil masalah keimanan, aku sering sekali bergaul dan bertukar pendapat dengan teman-teman Muslim padahal kami masih SD. Ada satu omongan dari temanku yang tidak sengaja kudengar. Rupanya mereka cemburu sama umat Katolik, yang membangun gereja.
“Di sana tiba-tiba ada gereja gede, itu dari Vatikan paling,” ujarnya kepada teman yang lain. Aku pun menimpali, “Lho memang kenapa kalau dari Vatikan , itu kan dari pimpinan agamanya sendiri dari Roma sampai ke sini bisa memberikan dananya, itu kan hebat banget berarti kan umat Katolik solid, nah kenapa kamu nggak punya?”.
Ketika aku kelas 1 SMP ayahku masuk Islam. Aku agak sedikit kecewa, mengapa ayah masuk Islam sehingga dalam keluarga ada dua agama. “Biar tidak dua agama ya semuanya masuk Islam dong,” kata ayahku. Tentu saja aku menolak. Ibu dan saudaraku pun demikian.
Karena saat itu aku menganggap bahwa sebuah agama itu dilihat dari umatnya bukan dari ajaran dalam kitab sucinya. Aku lihat umat Islam itu kan miskin, suka cekcok, banyak yang jadi pencuri. Sedangkan umat Katolik itu solid atau guyub. Misalnya saat koor, menyanyikan lagu-lagu pujian kepada Tuhan. Dan sering banget koor tersebut diadakan di rumahku.
Aku melihat kok solid banget, kesannya tidak dikoordinir kok kompak banget. Ada yang bawa makanan, nyumbang uang dan lainnya padahal tidak diminta. Aku pun tidak pernah melihat bila ada gereja dibangun dan panitia pembangunan gereja minta sumbangan di jalan-jalan.
Kesolidan semacam itu tidak aku lihat di umat Islam. Itulah yang menjadi rem bagiku sehingga tidak kunjung masuk Islam. Meskipun berulang kali ayah sering mengatakan bahwa Bible itu isinya beda tahun terbitan ya berubah. Jadi sudah tidak asli lagi. Aku tetap bersikukuh.
Masuk Islam
Kelas 1 SMA, aku berpikir lagi lantas aku ini umat apa? Islam bukan Katolik juga bukan. Wah jadi umat yang bukan-bukan dong. Berarti ini ada yang salah. Apakah aku belum memahami Katolik secara menyeluruh atau belum memahami Islam secara menyeluruh.
Aku pun memperhatikan aktivitas di mushala sekolah, suasananya memupus stigma negatifku tentang Islam. Dan mungkin ini agak tidak rasional ya, di mushola tersebut terasa sejuk, padahal udara di sekitar begitu panas. Suasana mushala betul-betul hidup, tempat mungil itu tidak hanya untuk shalat tetapi digunakan juga untuk diskusi dan belajar. Ternyata mereka pun guyup!
Aku pun memutuskan turut dalam diskusi itu. Aku sampaikan masalahku. Dengan gamblang mereka menjelaskan bahwa Tuhan atau Allah itu tidak beranak tidak pula diperanakkan, Allah itu berbeda dengan makhluk. “Kalau kamu melihat ajaran agama itu dari umatnya, untuk saat ini, kamu pasti akan melihat tidak ada satu pun agama yang benar di dunia ini,'' ujar salah satu teman sekolahku itu.
Dia pun mencontohkan ketika seseorang itu salah belum tentu kesalahan itu terjadi karena orang tersebut sedang mengamalkan agamanya. Di Indonesia banyak pencuri beragama Islam itu karena di Indonesia mayoritas penduduknya beragama Islam. Coba tengok Filipina, di penjaranya dipenuhi pencuri yang beragama Kristen. “Apakah Kristen mengajarkan umatnya mencuri? Kan tidak, begitu juga Islam,” ujarnya.
Jadi kalau mau tahu ajaran itu benar atau salah harus langsung merujuk kepada sumber ajaran itu sendiri, yakni kitab sucinya. Pas aku baca Alquran dan mempelajari Islam lho ternyata di Islam pun mengajarkan kasih sayang dan moralitas lainnya yang ada di Katolik. Ya penjelasannya memang mirip dengan penjelasan ayah. Namun pikiranku baru terbuka ketika diskusi dengan mereka.
Cocok dong dengan Katolik. Tapi Islam ada kelebihannya, pikirku, karena masalah ketuhanan Islamlah yang benar! Maka aku pun langsung masuk Islam. Alhamdulillah, akhirnya keluargaku semua masuk Islam.
Setahun setelah lulus kuliah, tepatnya pada tahun 2005 aku menikah. Alhamdulillah pemahamanku tentang Islam semakin membaik. Karena istriku banyak menyampaikan apa-apa yang dia pahami tentang Islam. Awalnya aku selalu mendebat tetapi jawabannya mematahkan argumenku.
Jawabannya mencerahkanku, ternyata Islam tidak seperti yang aku kira selama ini. Aku kagum, olok-olokanku waktu SD itu, “mengapa kamu tidak punya Vatikan!” ternyata umat Islam itu dulu punya. Sekarang umat Islam menjadi begini karena institusi tersebut sudah tidak ada. Institusi tersebut disebut dengan Khilafah Islam. Untuk memahami Islam lebih dalam aku pun turut mengaji.
Vatikan yang hanya mengurus masalah ibadah atau kerohanian saja, sudah begitu solidnya. Apalagi kalau Khilafah tegak lagi. Karena Khilafah mengurus juga masalah pendidikan, ekonomi, politik, sistem pergaulan, pemerintahan dan lainnya yang semuanya itu bersumber dari Alquran dan Sunnah. Subhanallah.[] seperti dituturkan budi kristyanto kepada joko prasetyo
http://www.mediaumat.com/sosok/919.html
(Aktivis Dakwah asal Jakarta) |
Vatikan yang hanya mengurus masalah ibadah atau kerohanian saja, sudah begitu solidnya. Apalagi kalau Khilafah muncul lagi.
Aku anak ketiga dari tujuh bersaudara. Terlahir di tengah keluarga Kristen Katolik yang taat di Jakarta pada 23 Desember 1979 dengan nama Ignatius Budi Kristyanto. Setiap Minggu aku rajin ke gereja. Bahkan rumahku pun sering dijadikan tempat koor teman-teman orang tuaku.
Ayah mendidik anak-anaknya untuk terbuka dan kritis. Tidak menelan mentah-mentah informasi apalagi yang terkait dengan keyakinan. Apa yang menjadi gejolak pencarian kebenarannya selalu dilempar pula ke anak-anaknya termasuk aku, padahal aku masih SD.
Ia pun menceritakan dialognya dengan Romo di gereja. “Yesus itu siapa? Kalau Yesus adalah Tuhan mengapa ia diciptakan? Mengapa Tuhan ada tiga? Padahal dalam Bible sendiri Yesus tidak pernah menyebut dirinya sebagai Tuhan. Sayangnya Romo selalu menjawab seperti ini: “Jika saya jawab keimanan kamu akan menurun”.
“Itu jawaban tidak bijak,” ujar ayah. Sehingga aku menjadi ikut berpikir. Sejak saat itu pun aku mulai meragukan trinitas dan mulai meyakini Yesus bukan Tuhan.
Kecewa
Meskipun nyebelin, karena mereka suka nyentil-nyentil masalah keimanan, aku sering sekali bergaul dan bertukar pendapat dengan teman-teman Muslim padahal kami masih SD. Ada satu omongan dari temanku yang tidak sengaja kudengar. Rupanya mereka cemburu sama umat Katolik, yang membangun gereja.
“Di sana tiba-tiba ada gereja gede, itu dari Vatikan paling,” ujarnya kepada teman yang lain. Aku pun menimpali, “Lho memang kenapa kalau dari Vatikan , itu kan dari pimpinan agamanya sendiri dari Roma sampai ke sini bisa memberikan dananya, itu kan hebat banget berarti kan umat Katolik solid, nah kenapa kamu nggak punya?”.
Ketika aku kelas 1 SMP ayahku masuk Islam. Aku agak sedikit kecewa, mengapa ayah masuk Islam sehingga dalam keluarga ada dua agama. “Biar tidak dua agama ya semuanya masuk Islam dong,” kata ayahku. Tentu saja aku menolak. Ibu dan saudaraku pun demikian.
Karena saat itu aku menganggap bahwa sebuah agama itu dilihat dari umatnya bukan dari ajaran dalam kitab sucinya. Aku lihat umat Islam itu kan miskin, suka cekcok, banyak yang jadi pencuri. Sedangkan umat Katolik itu solid atau guyub. Misalnya saat koor, menyanyikan lagu-lagu pujian kepada Tuhan. Dan sering banget koor tersebut diadakan di rumahku.
Aku melihat kok solid banget, kesannya tidak dikoordinir kok kompak banget. Ada yang bawa makanan, nyumbang uang dan lainnya padahal tidak diminta. Aku pun tidak pernah melihat bila ada gereja dibangun dan panitia pembangunan gereja minta sumbangan di jalan-jalan.
Kesolidan semacam itu tidak aku lihat di umat Islam. Itulah yang menjadi rem bagiku sehingga tidak kunjung masuk Islam. Meskipun berulang kali ayah sering mengatakan bahwa Bible itu isinya beda tahun terbitan ya berubah. Jadi sudah tidak asli lagi. Aku tetap bersikukuh.
Masuk Islam
Kelas 1 SMA, aku berpikir lagi lantas aku ini umat apa? Islam bukan Katolik juga bukan. Wah jadi umat yang bukan-bukan dong. Berarti ini ada yang salah. Apakah aku belum memahami Katolik secara menyeluruh atau belum memahami Islam secara menyeluruh.
Aku pun memperhatikan aktivitas di mushala sekolah, suasananya memupus stigma negatifku tentang Islam. Dan mungkin ini agak tidak rasional ya, di mushola tersebut terasa sejuk, padahal udara di sekitar begitu panas. Suasana mushala betul-betul hidup, tempat mungil itu tidak hanya untuk shalat tetapi digunakan juga untuk diskusi dan belajar. Ternyata mereka pun guyup!
Aku pun memutuskan turut dalam diskusi itu. Aku sampaikan masalahku. Dengan gamblang mereka menjelaskan bahwa Tuhan atau Allah itu tidak beranak tidak pula diperanakkan, Allah itu berbeda dengan makhluk. “Kalau kamu melihat ajaran agama itu dari umatnya, untuk saat ini, kamu pasti akan melihat tidak ada satu pun agama yang benar di dunia ini,'' ujar salah satu teman sekolahku itu.
Dia pun mencontohkan ketika seseorang itu salah belum tentu kesalahan itu terjadi karena orang tersebut sedang mengamalkan agamanya. Di Indonesia banyak pencuri beragama Islam itu karena di Indonesia mayoritas penduduknya beragama Islam. Coba tengok Filipina, di penjaranya dipenuhi pencuri yang beragama Kristen. “Apakah Kristen mengajarkan umatnya mencuri? Kan tidak, begitu juga Islam,” ujarnya.
Jadi kalau mau tahu ajaran itu benar atau salah harus langsung merujuk kepada sumber ajaran itu sendiri, yakni kitab sucinya. Pas aku baca Alquran dan mempelajari Islam lho ternyata di Islam pun mengajarkan kasih sayang dan moralitas lainnya yang ada di Katolik. Ya penjelasannya memang mirip dengan penjelasan ayah. Namun pikiranku baru terbuka ketika diskusi dengan mereka.
Cocok dong dengan Katolik. Tapi Islam ada kelebihannya, pikirku, karena masalah ketuhanan Islamlah yang benar! Maka aku pun langsung masuk Islam. Alhamdulillah, akhirnya keluargaku semua masuk Islam.
Setahun setelah lulus kuliah, tepatnya pada tahun 2005 aku menikah. Alhamdulillah pemahamanku tentang Islam semakin membaik. Karena istriku banyak menyampaikan apa-apa yang dia pahami tentang Islam. Awalnya aku selalu mendebat tetapi jawabannya mematahkan argumenku.
Jawabannya mencerahkanku, ternyata Islam tidak seperti yang aku kira selama ini. Aku kagum, olok-olokanku waktu SD itu, “mengapa kamu tidak punya Vatikan!” ternyata umat Islam itu dulu punya. Sekarang umat Islam menjadi begini karena institusi tersebut sudah tidak ada. Institusi tersebut disebut dengan Khilafah Islam. Untuk memahami Islam lebih dalam aku pun turut mengaji.
Vatikan yang hanya mengurus masalah ibadah atau kerohanian saja, sudah begitu solidnya. Apalagi kalau Khilafah tegak lagi. Karena Khilafah mengurus juga masalah pendidikan, ekonomi, politik, sistem pergaulan, pemerintahan dan lainnya yang semuanya itu bersumber dari Alquran dan Sunnah. Subhanallah.[] seperti dituturkan budi kristyanto kepada joko prasetyo
http://www.mediaumat.com/sosok/919.html
Langganan:
Postingan (Atom)


