Mengamati, Melihat, memahami, Dan Menuliskannya

Selasa, 24 Maret 2015

Kuwi Bosmu yo ?







Kuwi Bos mu ?

Begitulah kata bapak saya sambil tertawa ketika saya bsrsama dgn beliau melihat juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia, Ustad Ismail Yusanto, dalam acara ILC TV One ( 25/03 ). Menanggapi komentar bapak saya ketika melihat Ustad Ismail saya pun tertawa kecil sambil bilang, " itu Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia Pak ". Selain itu bapak saya juga komentar ketika nonton bareng ILC ini, " pye HTI mendukung Isis yo ?". Saya jawab singkat ; " cobo didelok lan rungokke bareng-bareng pak " ( coba kita lihat dan dengar bersama-sama pak ).

Dalam catatan saya, ada beberapa hal yg disampaikan Ust.Ismail Yusanto ;

1. Dalam penjelasan Ust.Ismail memaparkan bahwa Hizbut Tahrir sudah memberikan bayan terkait sikapnya terhadap Isis, yakni tidak mengakui keabsahan Khilafah yg dideklarasikan terhadap Isis. Dengan penjelasan ini maka seluruh anggota Hizbut Tahrir, termasuk anggota Hizbut Tahrir Indonesia mempunyai sikap yg sama dalam persoalan ini, yakni tidak mengakui Khilafah yg dideklarasikan Isis.

2. Ustad Ismail juga mengklarifikasi dan juga sekaligus membantah tuduhan yg menyatakan bahwa Hizbut Tahrir punya faksi radikal yg bernama Al Muhajirun. Hal ini dibantah bahwa antara Al Muhajirun yg diinisiasi oleh syaikh Omar Bakri di inggris tidak ada kaitanya dengan Hizbut Tahrir.

3. Jubir HTI mengingatkan dan mewaspadai bahwa isu isis ini dijadikan akan mengkriminalisasikan simbol-simbol Islam dan ide-ide Islam. Simbol-simbol Islam itu contohnya adl kriminalisasi bendera Islam, ar rayyah. Termasuk mengkriminalkan istilah Jihad dan Khilafah. Padahal itu adalah ide-ide Islam yg genuine dari islam itu sendiri.

4. Secara Khusus beliau Ustad Ismail jika isu isis ini menjadikan suasana tidak kondusif di masyarakat karena ada kriminalisasi istilah Dakwah. Padahal dakwah ini adalah bagian penting dari ajaran Islam.

5. Dan ini yg penting, walaupun dipotong oleb Pak karni ilyas selaku host ILC,Pak Ismail menjelaskan secara singkat bahwa ancaman nyata negeri ini adalah neo Liberalisme dan Neo Imperilisme.


Dalam batinku alhamdulillah clear, walaupun sebenarnya " sebel " juga karena ustad ismail tidak diberi kesempatan untuk melanjutkan penjelasanya terkait ancaman nyata yakni neo liberalisme dan neoimperialisme. Saya mengandaikan jika diberi kesempatan untuk menjabarkan bahaya neoliberalisme dan neoimperialisme maka diskusi ILC ini bisa berubah arah angin topic pembicaraanya. Ya walaupun sebel setidaknya penjelasan singkat dari pak Ismail ini bisa menyelesaikan dan menjawab bapakku, hehe..


Terbukti bapak yg awalnya cukup tegang menonton diskusi ini, bisa tertawa lepas, ditambah lagi dengan guyonan segar ala pak Kyai Hasyim Muzadi.

Pacekelan, Purworejo, 25/03/2015




Tidak ada komentar: