Mengamati, Melihat, memahami, Dan Menuliskannya

Selasa, 01 Januari 2013

TELAAH KITAB AL-TAKATTUL AL-HIZBIY








Pengantar

"Kitab ketiga," itulah julukan sebagian kalangan aktivis HTI untuk kitab al-Takattul al-Hizbi (selanjutnya disingkat al-Takattul). Maklum, kitab karya Taqiyuddin an-Nabhani ini biasanya dikaji dalam pembinaan internal HT setelah kitab Nizham al-Islam dan kitab Mafahim Hizbut Tahrir.
Jika kitab Nizham al-Islam menjelaskan Islam sebagai sistem kehidupan, dan kitab Mafahim Hizbut Tahrir menjelaskan pokok-pokok pikiran HT, maka kitab al-Takattul menjelaskan pembentukan kelompok Islam yang ideal serta berbagai tahapan dan langkah yang akan ditempuhnya, untuk mewujudkan sistem kehidupan Islam itu.
Jadi kitab al-Takattul ini memang tak bisa dilepaskan dari kitab Nizham al-Islam. Sebab setelah seseorang memahami Islam sebagai sebuah sistem kehidupan (nizham al-hayah), mungkin dia akan bertanya,"Lalu bagaimana mewujudkannya dalam realitas kehidupan?" Nah, kitab al-Takattul ini berusaha menjawab pertanyaan itu. Intinya, untuk mewujudkan Islam sebagai sistem kehidupan, mutlak diperlukan negara (Khilafah). Dan untuk mengembalikan Khilafah, mutlak diperlukan sebuah partai politik Islam yang sahih.
Namun seperti kitab Mafahim Hizbut Tahrir, kitab al-Takattul ini mengandung kompleksitas yang tinggi. Ditulis secara simultan dalam 55 halaman tanpa bab dan anak judul, kitab al-Takattul acap kali membuat pembacanya kesulitan menangkap maksudnya. Demikian pula kitab ini hanya secara global menjelaskan setting sejarah sejak abad ke-19 M dan kondisi berbagai gerakan Islam yang ada, tanpa menyebut nama-nama gerakannya.
Maka dari itu, siapa saja yang ingin memahami kitab al-Takattul dengan baik, dia tak bisa mencukupkan diri hanya dengan membaca kitab itu saja. Dia harus memperbanyak informasi-informasi penunjang guna memahami kitab tersebut, baik informasi dari kitab-kitab HT maupun literatur keislaman umumnya.
Kitab Manhaj Hizbut Tahrir fi al-Taghyir, misalnya, perlu dibaca. Karena ia merupakan penyederhanaan dan ringkasan kitab al-Takattul dari segi tahapan dan langkah kelompok Islam --dalam hal ini HT-- dalam mengubah masyarakat. Untuk memahami situasi politik dan sosial umat Islam pada masa akhir Khilafah Utsmaniyah (abad ke-18 dan ke-19), misalnya, dapat dibaca mukadimah buku Ittijahat al-Tafsir fi al-'Ashr al-Rahin karya Dr. Abdul Majid al-Muhtasib, atau buku Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah karya Dr. Muhammad ash-Shalabi. Mengenai gerakan-gerakan kebangkitan Islam, dapat dibaca misalnya buku Gerakan Kebangkitan Islam karya Dr. Hafizh Muhammad al-Ja'bari. Sudah barang tentu, layak pula ditelaah syarah kitab al-Takattul karya Muhammad Hawari.
Gambaran Isi Kitab

Apa isi kitab al-Takattul (2001)? Kitab ini pada dasarnya ingin menyampaikan 3 (tiga) penjelasan mendasar menyangkut gerakan Islam yang bertujuan membangkitkan umat Islam. Tiga penjelasan itu adalah mengenai :
Pertama, faktor-faktor yang menyebabkan gagalnya berbagai gerakan, dari sisi pembentukan keorganisasiannya (hal. 1-21).
Kedua, tatacara pembentukan partai politik yang sahih (hal. 22-30)
Ketiga, tahapan kerja partai, hambatan-hambatan, serta bahaya-bahaya yang akan dihadapinya (hal. 30-53). Berikut ini uraiannya.
Sebab-Sebab Kegagalan Gerakan

Sejarah telah membuktikan, banyak gerakan yang berdiri sejak abad ke-19 telah gagal membangkitkan umat Islam. Dari sisi pembentukan organisasi, ada 4 (empat) faktor yang menyebabkan kegagalannya, yaitu gerakan tersebut : (1) bertumpu pada fikrah (konsep) yang masih umum, (2) tidak mengetahui thariqah (metode) untuk menerapkan fikrahnya, (3) tidak diemban oleh orang-orang yang matang kesadarannya, dan (4) tidak mempunyai ikatan yang benar untuk mengikat anggota-anggotanya (hal. 3-4)
Mengenai fikrah & thariqah, banyak gerakan tidak didasarkan pada fikrah dan thariqah yang jelas. Banyak gerakan berdiri hanya karena respon sesaat, misalnya gerakan nasionalis yang muncul karena penjajahan. Wajar saja bila gerakan-gerakan ini mengalami kegagalan, sebab gerakan-gerakan ini tidak bertumpu pada fikrah dan thariqah yang jelas (hal. 4-5).
Sebuah gerakan Islam, sudah semestinya bertumpu hanya pada ideologi (mabda') Islam. Sebab, falsafah kebangkitan yang hakiki itu tiada lain adalah ideologi Islam, yang mengintegrasikan fikrah dan thariqah Islam secara terpadu. Ideologi Islam ini harus didakwahkan, lalu ditegakkan Daulah Islamiyah di sebuah negeri untuk menerapkan ideologi Islam itu secara total. Selanjutnya, Daulah Islamiyah itu akan terus meluas meliputi seluruh negeri-negeri Islam (hal. 6-7)
Selain tidak jelas, fikrahnya juga mengalami pencemaran atau peracunan akibat adanya fikrah-fikrah asing dari penjajah kafir, misalnya fikrah sekularisme, nasionalisme, patriotisme, dan sosialisme. Fikrah-fikrah asing ini, jelas akan membuat individu muslim kehilangan kepribadian Islamnya, sehingga kepribadiannya akan kacau balau. Secara emosional, dia mempunyai emosi sebagai muslim, tapi fikrahnya adalah fikrah penjajah yang kafir. Individu muslim yang berkepribadian kacau ini, perlu diselaraskan dahulu pola pikir dan pola jiwanya. Individu yang demikian, jika membentuk kelompok atau partai politik, mustahil akan menghasilkan kebangkitan yang sahih (hal. 13-15).
Thariqah yang tidak jelas dapat dilihat pada berbagai organisasi sosial (jam’iyyah khairiyah) dan organisasi akhlaq (jam’iyyah khuluqiyah). Organisasi sosial yang aktivitasnya membangun sekolah, rumah sakit, dan sebagainya, dikhawatirkan menjadi kanalisasi (penyaluran) dari semangat kebangkitan Islam yang menggelora di dada umat Seharusnya semangat itu terwujud dalam sebuah kelompok berbentuk partai politik (al-takattul al-hizbi) yang akan membawa kebangkitan. Dengan adanya organisasi sosial, semangat itu akan tersalurkan hanya untuk memenuhi kepentingan umat secara parsial, bukan untuk melahirkan sebuah kebangkitan umat yang benar (hal. 17-18).
Organisasi akhlak juga menunjukkan fenomena ketidakjelasan thariqah. Mereka mengedepankan akhlak untuk memperbaiki masyarakat dengan jalan memperbaiki akhlaq individu masyarakat. Ini salah. Sebab jalan memperbaiki individu tidak sama dengan jalan memperbaiki masyarakat. Memang memperbaiki individu jalannya adalah dengan memperbaiki akhlaknya. Namun memperbaiki masyakat bukanlah dengan memperbaiki akhlak individunya, melainkan dengan memperbaiki pemikiran, perasaan, dan peraturan yang ada dalam masyarakat (hal. 19-20)
Kegagalan gerakan-gerakan ini juga dikarenakan individu-individunya bukanlah individu yang matang dan sadar. Sebab, model rekrutment atau pengikatan orang-orang ke dalam gerakan-gerakan tersebut tidak didasarkan pada kelayakan individu tersebut, tapi didasarkan pada ketokohanannya di masyarakat, atau karena kemampuannya mendatangkan kepentingan sesaat bagi kelompok, dan sebagainya (hal.20-21}
Ikatan yang ada dalam gerakan-gerakan itu juga tidak benar, yakni hanya sebatas tata aturan formal organisasi di atas kertas. Seharusnya ikatan yang benar adalah Aqidah Islam dan tsaqafah gerakan (tsaqafah Islam) yang lahir dari aqidah itu. Ikatan ini, sekaligus juga menjadi ukuran kematangan seseorang untuk dapat direkrut ke dalam sebuah kelompok Islam (hal. 8)
Cara Membentuk Kelompok Islam Ideal
Ini adalah inti kitab al-Takattul, yakni bagaimana membentuk sebuah kelompok Islam yang sahih (hal. 22-30). Kelompok Islam yang sahih ini, adalah sebuah partai politik yang berlandaskan ideologi Islam. Partai politik Islam ini merupakan sebuah kelompok yang individu-individunya mengimani Islam sebagai sebuah ideologi serta berusaha menerapkan ideologi ini ke tengah masyarakat untuk mengatur berbagai interaksi di tengah masyarakat.
Proses pembentukan partai politik Islam itu mengikuti 4 (empat) tahapan berikut : sel pertama à halaqah ula à kutlah hizbiyah à hizb mabda'i.
Yang dimaksud sel awal (al-khaliyah al-ula), adalah orang pertama, yang bersih serta telah memahami fikrah dan thariqah Islam dengan sempurna. Kemudian ia menularkan ideologi ini kepada orang-orang lain sehingga terbentuk halaqah ula.
Halaqah ula adalah kumpulan beberapa orang di bawah kepemimpinan sel awal tadi secara fikrah dan thariqah. Halaqah ula ini disebut juga dengan istilah qiyadah al-hizb (pemimpin partai) atau al-halaqah al-hizbiyah. Halaqah ula ini, akan berkembang menjadi kutlah hizbiyah (kelompok cikal bakal partai).
Kutlah hizbiyah adalah halaqah ula ditambah dengan banyak individu yang sepakat dengan fikrah dan thariqah yang ada. Kutlah hizbiyah dicirikan dengan adanya ikatan (rabithah) yang menjadi pengikat di antara banyak anggota baru tersebut. Ikatan ini adalah, Aqidah Islam dan Tsaqafah Islam partai yang lahir dari Aqidah Islam itu (hal. 22). Kutlah hizbiyah selanjutnya akan menjadi sebuah hizb mabda'i (partai politik ideologis) yang sempurna (hal. 23)
Hizb mabda'i, adalah kutlah hizbiyah yang sudah melakukan amal kepartaian (hal. 23). Jadi ciri yang menunjukkan berubahnya kutlah hizbiyah menjadi hizb mabda'i, adalah adanya amal kepartaian, yaitu melakukan pembinaan intensif untuk kalangan internal sehingga individu partai semakin banyak, dan pembinaan umum untuk masyarakat sehingga terwujud kesadaran umum di tengah seluruh masyarakat (hal. 25).
Tahapan dan Kerangka Kerja Partai

Tahapan dan kerangka kerja partai politik ideologis (hizb mabda'i) tersebut, dijelaskan dalam at-Takattul pada halaman 30-53, yang terdiri dari 18 (delapan belas) poin.
Sejumlah 18 poin tersebut, dapat dipilah lagi lagi menjadi 4 (empat) kategori penjelasan, yaitu : (1) poin nomor 1 - 8, menjelaskan tentang bagaimana pembentukan dan kemunculan sebuah partai yang benar; (2) poin nomor 9 - 12, menjelaskan kerja partai pada tahapan dakwah yang pertama (tahap pembinaan); (3) poin nomor 13 - 17, menjelaskan kerja partai pada tahapan dakwah yang kedua (tahap berinteraksi dengan masyarakat); (4) poin nomor 18, menjelaskan kerja partai pada tahapan dakwah yang ketiga (tahap ahan kekuasaan ).
Tahap Pembinaan.
Pembinaan dalam partai berbeda dengan pendidikan di sekolah. Setiap anggota partai harus melalui proses pembinaan ini. Sebab, dengan proses ini seseorang akan memahami fikrah dan thariqah partai. Setiap orang yang hendak bergabung dengan partai harus menempuh fase ini, tanpa memandang gelar dan kedudukan di tengah-tengah masyarakat. Keberhasilan pada fase ini merupakan jaminan bagi keberhasilan pada fase berikutnya
Tahap Berinteraksi Dengan Masyarakat
Pada fase ini partai menceburkan diri di tengah-tengah masyarakat untuk memahamkan fikrah dan thariqah partai kepada umat dan berjuang bersama-sama umat demi melanjutkan kehidupan Islam.
Pada fase ini partai akan menghadapi hambatan-hambatan dan bahaya-bahaya. Hambatan-hambatan yang ada : (1) pertentangan ideologi partai (Islam) dengan ideologi di masyarakat; (2) perbedaan tsaqafah partai (Islam) dengan tsaqafah di masyarakat; (3) adanya orang-orang pragmatis di masyarakat, baik yang pasrah dengan realitas, maupun orang zalim yang enggan hidup dalam kebenaran; (4) keterikatan manusia dengan kepentingan-kepentingannya; (5) sulitnya mengorbankan kehidupan dunia di jalan Islam dan dakwah Islam, (6) perbedaan sarana-sarana fisik di masyarakat, yang dapat mendorong partai membeda-bedakan pembinaan tsaqafah dan arahan ideologi di antara umat.
Sedangkan bahaya-bahaya ada dua, yaitu : (1) bahaya ideologis, yakni bahaya yang dapat mengancam fikrah atau thariqah partai; (2) Bahaya kelas, yaitu bahaya yang mengakibatkan anggota partai merasa menjadi kelas yang berbeda dengan masyarakat.
Tahap Penyerahan Kekuasaan
Inilah fase terakhir yang akan ditempuh oleh partai, yakni, umat menyerahkan kekuasaan kepada partai demi menerapkan Islam secara menyeluruh dan menyebarkan Islam ke seluruh dunia dalam sebuah Daulah Islamiyah.
Penutup

Kebangkitan umat mutlak memerlukan sebuah partai politik Islam sejati yang benar-benar mampu mengantarkan umat meraih tujuan-tujuannya. Adanya partai politik Islam yang sahih merupakan jaminan bagi tegaknya Daulah Islamiyah, serta jaminan bagi penjagaan eksistensi Daulah Islamiyah.
Walhasil, tegaknya dan terjaganya Daulah Islamiyah bergantung pada partai politik Islam sejati itu. Maka memahami bagaimana membentuk partai politik Islam yang sahih merupakan keharusan bagi kaum muslimin.

penulis : K.H.Muhammad Siddiq Al-Jawwi

Tidak ada komentar: