Mengamati, Melihat, memahami, Dan Menuliskannya

Rabu, 07 Oktober 2015

Mengelola Banyak Kepala






Mengelola Banyak Kepala

Dalam sebuah organisasi, komunitas, atau pergerakan berkumpul banyak manusia di dalamnya. Orang-orang yg ada di dalamnya adalah sangat beragam, dengan latar belakang pendidikan, dan karakternya masing-masing. Dari sisi pendidikan ada yang anak kuliahan, profesor, bahkan lulusan SD, sementara dari sisi karakter ada yg temperamental, ada pula yg pendiam. Ada yg lebih banyak mendengarkan, ada pula yg aktif mengemukakan pendapatnya.

Saya banyak belajar dari kutlah dakwah yg dipimpin oleh Nabi Muhammad SAW, di dalamnya beragam orangnya, yang tidak lain adalah para sahabat Generasi terbaik as sabiqunal awwalun. Di dalamnya ada remaja-pemuda, ada pula kalangan tua, ada yg bertipe akademis-intelektual, ada pula yg sederhana, ada yg berwatak keras, ada pula yg berkarakter lemah lembut. Lihatlah bagaimana bagaimana beragamnya mereka, ada Ali bin abi thalib, ada Umar bin khattab, ada usman bin affan, ada abu bakar as sidiq, ada zubair bin awwam, ada thalhah bin ubaidillah, ada Hamzah dsb...

Dengan beragamnya banyak orang, tentu akan beragam pula isi kepalanya. Nah disinilah diperlukan kepemimpinan yg mempunyai kewenangan untuk menkoordinir dan mengkomando banyak kepala ini. Tanpa pemimpin yang menyatukan ini, mustahil akan terjadi keselarasan gerak. Padahal ini adalah hal yang sangat penting. Begitu pentingnya sampai-sampai dikatakan " kebatilan yg terorganisir akan mengalahkan Kebenaran yg berserak ".

Bagi para pengemban dakwah pejuang Syariah dan Khilafah, kepemimpinan disatukan oleh Fikrah dan Thariqah yg diadopsi oleh pergerakan. Berputarnya mereka banyak kepala ini disatukan oleh ikatan Mabda Islam dan Tsaqafah yg di tabani ( diadopsi ) oleh pergerakan. Dan layaknya sebuah pergerakan maka ada aturan khusus yang mengikat para aktivisnya dalam menjalankan roda pergerakan, yakni berupa aturan administratif ( idariah ).

Dengan sistem pergerakan yg dibuat rapi inilah , para aktivis pergerakan senantiasa dievaluasi terkait sejauh mana mereka menjalankan amanah dan tanggung jawab yg tauran yg telah ditetapkan. Keterikatan para aktivis pergerakan terhadap aturan administratif ini sifatnya mengikat, dan harus dilaksanakan. Pelanggran terhadapnya harus menjadi evaluasi yg serius.

Dan dalam sebuah pergerakan akan terjadi dinamika internal di dalamnya, namun dinamika internal ini tidak berada dalam ranah substansial yg fatal, atau tidak pada level fikrah dan thariqah, karena jika ada penyelewengan dalam hal fikrah dan thariqah ini maka bisa membuat aktivis pergerakan baik langsung atau tidak langsung menepi dari sebuah pergerakan.

Sahabatku, semoga kita menjadi orang yg istiqamah untuk terorganisir menyeru dalam kebaikan.


SuroNegaran, Purworejo, 08/10/'15



Tidak ada komentar: