Mengamati, Melihat, memahami, Dan Menuliskannya

Senin, 12 Desember 2011

Mbah Im ( Pejuang Khilafah dari Bukit Menoreh )




Anda kenal Mbah Im? Pasti sebagian besar pembaca akan mengernyitkan dahi dan bertanya, “Siapa?” Namun bila pertanyaan itu dilontarkan kepada penduduk bukit Menoreh, tentu jawabannya akan lain.
Sosok bersahaja ini sudah tidak asing lagi bagi warga Dusun Kamal Desa Menoreh, Kelurahan/Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Meski rumahnya hanyalah gubuk bilik kecil, namun setiap hari selalu didatangi warga setempat, mulai dari anak-anak, remaja, dan orang dewasa.
“Saya percayakan sepenuhnya anak saya ngaji di Mbah Im karena sejak kecil juga saya ngaji pada Mbah Im, sehingga saya sudah tahu watak dan prilaku Mbah Im sepenuhnya,”  ujar Sarwani Lestari warga Kamal, Menoreh. Hal senada pun disampaikan warga lainnya terkait alasan mengapa mengaji pada Mbah Im.
Kepincut
Mbah Im sangat lancar membaca kitab gundul. Dengan metode menukil, menterjemahkan dan menjelaskan, nenek yang bernama asli Imronah ini mendidik umat. Meski sudah berusia 71 tahun, Mbah Im tetap rajin menimba ilmu. Ia terus berupaya mengamalkan sabda Kanjeng Nabi Muhammad SAW, “Utlubul ‘ilmi minal mahdi ilal lahdi (Tuntutlah ilmu mulai dari buaian sampai [menjelang] liang lahat).”
Usai shalat Shubuh dan membaca Alquran, ia langsung menyalakan radio bututnya yang dipanteng ke kuliah shubuh Mutiara Fajar,  Radio Radar FM. Buru-buru ia ambil kertas dan pensil untuk mencatat poin-poin penting narasumber  dari Klinik Anak Muda dalam Pergaulan Islami yang mengisi secara rutin Mutiara Fajar itu.
Dari kuliah shubuh itu pulalah awal ia mengenal ide-ide yang diusung Hizbut Tahrir. Mbah Im benar-benarkepincut materi yang dijelaskan Ust Umar Abdullah, narasumber.
“Zaman sekarang kok ada akademisi yang ingin merubah akhlak anak muda ke dalam Islam,” ujar Mbah Im mengenang kesan pertama mendengar siaran tersebut. Sejak itu, ia tidak pernah melewatkan kuliah shubuh Mutiara Fajar, karena pesan yang disampaikan narasumber sangat tepat dengan ajaran Islam.
Setiap kali mendengarkan, Mbah Im pun selalu membayangkan indahnya hidup dalam naungan khilafah, institusi negara yang menerapkan syariah Islam secara kaffah. Ia pun terheran-heran karena ternyata di zaman sekarang masih ada pemuda yang bercita-cita menegakkan institusi warisan Rasulullah SAW tersebut.
“Lah kok yo ada yang punya cita-cita koyo ngono (lah kok masih ada yang punya cita-cita seperti itu?)” tanya Mbah Im dalam benak. Mbah Im pun penasaran siapa sebenarnya para pemuda pengasuh Klinik Anak Muda dalam Pergaulan Islami itu. Ia ingin sekali bertemu dan menimba ilmu kepadanya karena ia kurang puas bila hanya dari radio saja.
Mbah Im merasa cocok sekali dengan ide-ide yang disampaikan narasumber itu. Pasalnya, yang disampaikannya itu sesuai dengan hati nurani dan cita-cita Mbah Im yang dididik Islam secara kental oleh ayahnya.
Ketika mendengarkan radio itu angannya pun melayang membayangkan indahnya hidup dalam naungan khilafah. “Koyo opo bungahe nek nganti diterapke syariat Islam (Tidak terbayang senangnya kalau syariah Islam diterapkan,” curhat Mbah Im menceritakan kerinduan dirinya pada penerapan Islam kaffah.
Maka ketika ia dikontak seorang aktivis Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia Magelang, ia langsung menyambutnya dengan antusias karena ide yang disampaikannya sama dengan yang ia dengar dalam Mutiara Fajar itu. Belakangan ia pun tahu Klinik Anak Muda dalam Pergaulan Islami itu dibuat oleh aktivis HTI.
Optimis
Sebelum mengenal HTI, Mbah Im sangat pesimis bahwa syariah Islam kaffah bisa diterapkan di luar pesantren. Pesimis berubah menjadi optimis seiring dengan interaksinya secara berkesinambungan dengan Muslimah HTI Magelang.
Mbah Im tidak mempemasalahkan kapan pertolongan Allah (nashrullah) berupa tegaknya syariah dan khilafah, karena itu semua merupakan ketentuan Allah SWT. “Allah yang menentukan, kita hanya usaha sekuat-kuatnya…ditemenani(diserius),” ujarnya kepada kontributor Media Umat.
Sejak saat itu, aktivitas Mbah Im pun bertambah. Ia benar-benar tawadhu meski sudah tua ia dengan ikhlas mengikuti pembinaan yang dilakukan oleh aktivis Muslimah HTI yang umurnya terpaut jauh di bawahnya.
Semangatnya untuk berdakwah pun semakin terpompa. “Dengan siapapun, saya menceritakan indahnya kalau syariat Islam diterapkan, saya juga tidak takut ada yang menentang karena memang begitu posisi sebenarnya dan Allah menghendaki seperti itu,” ujarnya penuh keyakinan.
Setiap kali Al Islam, buletin yang dikeluarkan HTI setiap Jum’at, terbit Mbah Im keliling kampung membagikan kepada kenalan-kenalannya, mulai dari tetangganya, orang tua muridnya, para pedagang di pasar bahkan ia pun menyempatkan diri ke kelurahan Salaman untuk menyampaikan Al Islam.
Namun saat ini ada kendala kesehatan karena penyakit tua, ada beberapa kontaknnya yang tertunda mendapatkan Al Islam karena lokasinya jauh dari Kamal. “Sekarang ini saya untuk membawa A Islam ke Salaman,mengambil fotokopi, untuk ke tempatnya Den Muhaimin Salam Kanci semuanya tertunda karena faktor ketuaan banyak menghambat,” keluhnya.
Memang faktor ketuaan harus diterima karena takdir tapi Mbah Im tidak mau karena ketuannya itu berhenti mengkaji ilmu dan berdakwah. “Tapi jangan sampai saya berhenti dakwah karena bosan, sampai matipun jangan sampai, apa yang bisa kita kerjakan harus kita lakukan!” tegasnya. []dewi/bu puji/joy


Tidak ada komentar: